29 April 2020, 14:20 WIB

Ngeyel Tarawih di Masjid, Wapres: Puasanya Hanya Lapar dan Haus


Emir Chairullah | Humaniora

WAKIL Presiden Ma’ruf meminta semua umat muslim di Indonesia untuk bersabar dengan tidak pergi ke rumah ibadah demi mengurangi penyebaran virus Covid-19. Wapres mengakui ujian kesabaran yang dihadapi umat muslim kali ini jauh lebih berat dibandingkan masa sebelumnya.

“Saya kira ujian orang puasa sekarang, diuji lagi dan diminta ada penambahan kesabaran, termasuk juga untuk tidak tarawih di luar rumah, tidak berjamaah di masjid karena itu di daerah-daerah yang memang merah,” katanya dalam keterangan pers Wapres, hari ini.

Ma’ruf berharap momen Ramadan kali ini dapat dijadikan pengingat dan peningkat kesabaran serta keikhlasan seluruh umat Islam untuk menjaga diri dan menghindari bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga puasa yang dikerjakan tidak hanya membawa manfaat bagi seorang individu, namun juga bagi orang lain di sekitarnya.

“Oleh karenanya, maka di dalam bulan Ramadan ini mari kita tingkatkan kesabaran kita, keikhlasan kita, supaya puasa kita itu juga selain mempunyai nilai ibadah tetapi juga mempunyai nilai sosial, nilai menjaga hubungan pergaulan,” jelas Wapres.

Baca juga: Covid-19: Satu Desa di Kabupaten Bangli Diisolasi Total

Wapres mengatakan, dirinya berharap umat muslim di Indonesia bisa memberikan manfaat kepada orang lain terutama berusaha aktif memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus membantu Pemerintah dalam memutus tali rantai penyebaran virus Covid-19.

“Jangan seperti yang disebutkan oleh Rasulullah, kam min shaimin laisa min shiyamihi illal ju’u wal ‘athasyu (banyak orang puasa, puasanya itu tidak mendapatkan apa-apa, melainkan hanya lapar dan haus saja). Tidak mendapatkan pahala karena melakukan dosa-dosa dan tidak memberikan manfaat sosial,” tambahnya.

Terkait dengan kekhawatiran masih adanya masjid yang tetap menyelenggarakan ibadah shalat tarawih di tengah pandemi covid-19, Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyebutkan, pihaknya menyarankan pemerintah melalui Kementerian Agama yang melakukan pendekatan langsung terhadap pengurus masjid yang masih membandel.

“Kemenag melalui Ditjen Bimas Islam kan bisa mengundang pengurus masjid ini untuk memberi penjelasan,” katanya.

Mu’ti mengungkapkan, peran yang tidak kalah strategis adalah sosialisasi melalui media massa dan media sosial. Selama ini sosialisasi masih kurang.

“Mereka yang tetap melaksanakan Tarawih dan shalat Jumat beralasan daerahnya di zona hijau. Karena itu mereka merasa aman dan nyaman sepanjang sudah mengikuti protokol Covid seperti distancing, cuci tangan, dan memakai masker,” ujarnya.

Untuk itu, tambahnya, sosialisasi lewat tokoh masyarakat dan tokoh agama penting karena pengamalan ibadah sangat dipengaruhi oleh keyakinan atau pemahaman agama. “Jika pemahaman tidak dirubah, maka sulit memberlakukan aturan PSBB dan darurat bencana,” pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT