29 April 2020, 12:36 WIB

BI: Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi Faktor Teknis


Despian Nurhidayat | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat mengalami pelemahan pada Selasa (28/4) kemarin.

Diketahui, rupiah ditutup melemah pada level Rp15.380 per dolar AS, atau turun 70 poin dibandingkan hari sebelumnya Rp 15.310 per dolar AS. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan fluktuasi nilai tukar rupiah dipengaruhi banyak faktor teknikal, baik domestik maupun global.

"Untuk yang terjadi beberapa hari kemarin ada beberapa faktor. Misalnya dari dalam negeri, kebutuhan valas untuk korporasi lebih tinggi. Ini memengaruhi permintaan valas,” jelas Perry dalam telekonferensi, Rabu (29/4).

Baca juga: Antisipasi Covid-19, BI Keluarkan 5 Kebijakan Penguatan Rupiah

Menurutnya, sentimen juga berasal dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Alhasil, pelaku pasar melihats situasi ini akan mengancam pertumbuhan ekonomi. Selain itu, prediksi Fitch terkait ekonomi Indonesia tumbuh 2,8%, juga menambah sentimen. Meski proyeksi itu lebih tinggi dari perkiraan BI untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini. 

"Tapi ada juga faktor positif  dari dalam maupun luar negeri. Seperti penawaran lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi menjadi Rp 44,4 triliun. Itu menunjukkan minat investor dalam dan luar negeri untuk membeli SBN ini 2,2 kali lipat dari target. Ini positif," pungkas Perry.

Baca juga: Jaga Likuiditas Perbankan, BI Gelontorkan Rp 503,8 Triliun

Selanjutnya, sentimen dari luar negeri berasal dari penguatan pasar future saham di AS dan Eropa. Perry menyebut hingga akhir tahun nilai tukar rupiah diprediksi stabil dan menguat ke arah Rp 15.000 per dolar AS. Apalagi ditambah dengan kondisi kurs pada level Rp15.400 per dolar AS yang masih undervalued. Pun, defisit transaksi berjalan lebih rendah dari target awal, yakni 2,5%-3% dari PDB. 

"Insha Allah pada kuartal I 2020 itu di bawah 1,5% dari PDB. Untuk keseluruhan tahun ini di bawah 2%, jika defisit transaksi berjalannya lebih rendah. Berarti kekurangan devisa itu lebih rendah dan mendukung penguatan nilai tukar ke arah fundamentalnya," tandasnya.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT