29 April 2020, 12:02 WIB

Jaga Likuiditas Perbankan, BI Gelontorkan Rp 503,8 Triliun


Despian Nurhidayat | Ekonomi

SEPANJANG Januari-April, Bank Indonesia (BI) telah menggelontorkan Rp 503,8 triliun melalui langkah quantitative easing (QE) untuk mencukupi ketersediaan likuiditas perbankan di tengah pandemi covid-19.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan jumlah itu terdiri dari Rp 386 triliun, yang bersumber dari kebijakan Bank Sentral pada Januari-Maret, termasuk penurunan GWM sebesar 50 basis poin (bps). Sedangkan, sisanya Rp 117,8 triliun melalui kebijakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 13-14 April, termasuk penurunan GWM sebesar 200 bps.

"Quantitative easing dari Januari hingga April jumlahnya Rp 386 triliun. Sumbernya kami beli SBN dari pasar sekunder yang dijual asing. Kalau asing jual, BI dapat beli SBN dan tambah likuiditas edarkan uang jumlahnya Rp 166,2 triliun," ungkap Perry dalam telekonferensi, Rabu (29/4).

Baca juga: Covid-19 Menyebar, Ini Arahan OJK bagi Kegiatan Industri Keuangan

Lebih lanjut, Perry menambahkan bahwa pasokan likuiditas juga bertambah dari Term Repo perbankan, yaitu underlying yang dimiliki bank untuk digunakan BI. Hal tersebut juga menambah likuiditas Rp 137,1 triliun.

Penambahan ketiga berasal dari penurunan GWM rupiah, yang diturunkan pada Januari-April yang juga menambah likuiditas Rp 53 triliun dan juga melalui swap valas Rp 29,7 triliun.

"Apa yang ditambah di awal Mei akan ditambahkan sesuai keputusan RDG. Pemangkasan GWM 2% itu bakal tambah Rp 102 triliun. Kami juga tidak mewajibkan bank dalam satu tahun ini untuk tidak penuhi rasio intermediasi pada Mei. Jadi total setelah RDG April Rp 117,8 triliun. Dan total keseluruhan Rp 386 triliun ditambah Rp 117,8 triliun, jumlahnya menjadi Rp 503,8 triliun," terang Perry.

Baca juga: BI Prediksi Inflasi April 2020 akan Mencapai 0,18%

Perlu diketahui, stabilitas dan likuiditas sistem keuangan sampai saat ini diklaim masih terjaga. Itu tecermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan periode Januari yang tinggi, yakni 22,74%.

Sementara rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) juga tetap rendah, yakni 2,77% (gross) atau 1,08% (net). Sementara itu, pertumbuhan kredit masih perlu mendapat perhatian. Tecermin dari angka pertumbuhan kredit pada Febuari sebesar 5,5% (yoy), atau sedikit turun dari Januari sebesar 6,10% (yoy).(OL-11)

 


BERITA TERKAIT