29 April 2020, 10:35 WIB

Petani Minahasa Selatan Sukses Budidaya Cabai


Voycke Lontaan | Nusantara

SEKTOR pertanian sangat menjanjikan keuntungan berlipat ganda bila sukses mengembangkannya. Itulah dialami oleh Donny Lembong, petani cabai keriting di Desa Tanbelang, Kecamatan Maesaan, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara. Bermodalkan bantuan sarana produksi dari Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Selatan, hingga pekan keempat April 2020, Donny Lembong mengantongi omset Rp52 juta dari enam kali panen, meski luas lahannya hanya0,7 hektar. Harga jual Rp8.000 per kg di tingkat petani mendorong banyak petani di desanya mengikuti jejak petani milenial tersebut.

Bantuan Saprodi dari Pemkab Minahasa Selatan berupa tiga rol plastik mulsa,pupuk organik 600 kg, pupuk kimia 100 kg dan pupuk hayati ekstragen 10 liter, sementara bibit cabai keriting disediakan oleh petani. Kabar gembira tersebut tak lepas dari 'tangan dingin' Mikhail Ramses Dawit, penyuluh pertanian di Kecamatan Maesaan, yang mendorong petani binaannya menanam cabai keriting. Alasannya  harganya kerap berfluktuasi sehingga menjadi salah satu pemicu inflasi daerah dan nasional.

Keberhasilan Donny Lembong, Ketua Poktan Anuma di Desa Tambelang direplikasi oleh Mikhail Ramses Dawit kepada empat Poktan binaannya di Kecamatan Maesaan.

Sukses Mikhail RD diapresiasi Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP, Leli Nuryati pada kegiatan 'Mentan Sapa Petani' melalui Agriculture War Room - Komando Strategis Pembangunan Pertanian (AWR KostraTani) di kantor pusat Kementerian Pertanian RI, belum lama ini.

Leli Nuryati mewakili Kepala BPPSDMP Prof Dedi Nursyamsi mengharapkan Mikhail RD mendorong lebih banyak petani untuk mengembangkan budidaya tanaman spesifik lokasi, yang hasil produksinya menguntungkan petani.

Penyuluh pertanian pusat di Kementerian Pertanian RI, Edizal, pendamping kegiatan penyuluhan pertanian Provinsi Sulawesi Utara mengatakan selain budidaya cabai keriting, Mikhail RD juga membina petani binaannya di Minahasa Selatan untuk menanam talas dan kacang merah, karenamerupakan pangan lokal yang disukai masyarakat.

baca juga: Napi Asimilasi Dilibatkan Membagikan Masker Ke Pengguna Jalan

"Talas termasuk gampang dibudidayakan. Banyak ditanam di bawah pohon cengkeh dan kelapa. Usia tanam delapan bulan. Hasilnya mencapai 50 kg dari satu rumpun. Harga jual cukup bagus sekitar Rp2.400 per kg untuk dikonsumsi atau menjadi produk olahan seperti keripik," kata Edizal.

Sementara kacang merah dihargai Rp20.000 di tingkat petani setelah masa tanam dua bulan sudah dapat dipanen untuk konsumsi masyarakat setempat. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT