29 April 2020, 09:10 WIB

Air Putih Saja Ternyata tidak Efektif Mengatasi Dehidrasi


Galih Agus Saputra | Weekend

DEHIDRASI secara sederhana dapat dipahami sebagai hambatan yang menggangu kinerja atau keseimbangan tubuh manusia karena kekurangan cairan. Sebuah studi yang terbit di jurnal Frontiers in Physiology (2018) menjelaskan bahwa, masalah ini dapat menyebabkan kelelahan, bahkan ringkihnya daya tahan tubuh manusia.

Anggapan umum yang berkembang selama ini mengatakan bahwa dehidrasi dapat diatasi dengan mengonsumsi air (H2O). Sebuah lembaga di Amerika Serikat (AS) yakni National Academy of Medicine (NAM) pernah merekomendasikan agar wanita dan pria dewasa setidaknya mengonsumsi 91 dan 125 ons air setiap hari, yang mana dalam konteksnya, satu galon air berarti setara dengan 128 ons cairan.

Akan tetapi, rupanya sedikit pula orang yang mengetahui bahwa menimbun banyak air dalam tubuh sejak pagi, siang, hingga malam bukanlah cara yang baik dan efisien untuk memenuhi syarat hidrasi.

Seperti dikutip Time, Direktur Human Performance Lab, di North Carolina Research Campus, David Nieman mengatakan bahwa, jika seseorang minum air dan kemudian, dalam dua jam kemudian output atau urinya sangat tinggi dan cenderung jernih, maka kemungkinan air itu tidak bertahan dalam tubuh.

Menurut Nieman, sifat alamiah air memungkinkan keberadaannya 'hanya lewat' dalam sistem pencernaan manusia, terlebih ketika tidak disertai dengan makanan atau nutrisi. Hal itu sering terjadi, misalnya, ketika seseorang mengonsumsi air dalam jumlah besar namun dalam keadaan perut kosong. Faktanya konsumsi air semacam itu, kata Nieman, dapat berujung pada kelebihan hidrasi (overhydration).

Sejumlah penelitian bahkan mengonfirmasi pandangan Nieman, yang mana salah satunya dapat dilihat dari American Journal of Clinical Nutrition (2015). Dalam terbitan itu, dijelaskan bahwa sejumlah peneliti pernah membandingkan efek hidrasi jangka pendek dari berbagai jenis minuman, seperti air putih, jus, minuman berenergi untuk olahragawan, susu, teh, hingga bir.

"Berdasarkan analisis urin yang dikumpulkan dari sukarelawan, peneliti menyimpulkan bahwa beberapa minuman seperti susu, teh, dan jus jeruk, lebih lembab atau bertahan dalam tubuh ketimbang air biasa," tutur Nieman.

Nieman selanjutnya mengatakan, tentu tidak ada yang menyarankan agar seseorang membuang air putih demi susu, teh, atau berbagai jenis minuman tersebut. Hanya saja, orang perlu tahu bahwa ada sejumlah 'elemen minuman' yang mempengaruhi hidrasi atau seberapa banyak tubuh menyerap H20.  Mengonsumsi air bersama dengan asam amino, lemak, atau mineral, misalnya, turut menentukan kualitas hidrasi.

"Orang-orang yang minum sebotol air di antara waktu makan, namun tanpa makanan mungkin hanya akan menghasilkan air kencing. Atlet atau orang yang berolahraga berjam-jam, jika mereka hanya minum air, mereka dapat membuang terlalu banyak natrium dalam urin mereka, yang kemudian menyebabkan ketidakseimbangan kadar natrium dalam tubuh. Dokter menyebut ketidakseimbangan ini sebagai 'hiponatremia' dan dalam beberapa kasus bisa berbahaya. Dalam konteks seperti ini, minuman berenergi untuk olahragawan atau minuman lain yang mengandung nutrisi dan natrium tentu lebih aman daripada air putih," tutur Nieman.

Nieman menambahkan bahwa minum air sebelum, selama, atau setelah makan adalah cara yang baik untuk menentukan kualitas hidrasi. Asam amino, lemak, vitamin, atau mineral membantu tubuh mengambil lebih banyak kandungan air, dan itulah mengapa minuman, misalnya, susu atau jus buah cenderung dianggap lebih baik dalam studi hidrasi.

Nieman juga menjelaskan, salah satu penelitiannya terhadap seorang atlet bahkan menunjukan bahwa makan pisang pasca olahraga ternyata lebih baik daripada minum air putih. (M-4)

BERITA TERKAIT