29 April 2020, 06:50 WIB

Indonesia-Tiongkok Perlu Kerja Sama Pascapandemi


PUTRI ROSMALIA OCTAVIYANI | Politik dan Hukum

DIALOG antarpartai politik (parpol) Indonesia dan negaranegara lain dinilai perlu dalam mengatasi pandemi. Termasuk dialog dengan Tiongkok yang mulai bangkit pascapandemi.

Menurut Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, dialog dengan Tiongkok yang telah lebih dulu berhasil menekan penyebaran covid-19, diharapkan dapat memberikan masukan dan info strategis untuk membantu penanggulangan covid-19 di Indonesia.

“Ini bisa jadi referensi bagi Indonesia untuk mengatasi segala macam dampak yang dialami bangsa Indonesia ini,” ujar Basarah, dalam Neighborhood Party Talk: Partai Politik Tiongkok-Indonesia Bergandeng Tangan Melawan Covid- 19, secara virtual, kemarin.

Basarah mengatakan saat ini semua pihak di Indonesia, khususnya pemerintah dan parpol tengah berupaya menyiapkan langkah-langkah mitigasi dampak covid-19, khususnya bidang sosial dan ekonomi.

“Karena yang paling dibutuhkan saat ini ialah kita perlu melakukan kerja sama internasional yang lebih baik dan efefktif dalam rangka mengatasi pandemi korona,” ujar Basarah.

Kerja sama itu lebih baik daripada saling tuding dan mencari kesalahan antarnegara di tengah pandemi. “Tidak ada gunanya warga dunia saling menyalahkan, mari hindari saling tuding. Saat ini paling penting ialah memutus mata rantai penyebaran covid-19 bersama-sama, menjaga stabilitas ekonomi dan sosial akibat terhentinya aktivitas ekonomi. Setelah itu kita bangun kembali perekonomian nasional di negara kita masing-masing,” kata Basarah.

Wakil Menteri International Department of the Communist Party of China Central Committee (IDCPC), Guo Yezhou, mengatakan wabah covid-19 memiliki dampak yang sangat luas. Sampai saat ini pemerintah Tiongkok masih berjuang keras memulihkan kondisi. “Di zaman globalisasi seperti sekarang, dampak korona akan memengaruhi rantai industri dan pasokan global,” ujar Guo Yezhou.

Ia mengatakan saat ini kerja sama internasional juga harus terus dijaga. Dengan begitu rantai pasokan kebutuhan serta industri dapat segera pulih dan berjalan normal pascawabah.


Belajar pulihkan ekonomi

Wakil Dirjen Komisi Pembangunan dan Reformasi Beijing, Li Sufang, mengatakan pemerintah Beijing dan Tiongkok secara umum melakukan berbagai kebijakan untuk meringankan beban industri. Mulai dari UMKM hingga industri besar yang juga terdampak. “Itu semua dilakukan untuk mencegah PHK besar-besaran,” ujar Li Sufang.

Berbagai bantuan tersebut mulai dari keringanan biaya sewa, penangguhan, dan penghapusan pajak, hingga pembebasan biaya asuransi. Li Sufang mengatakan cara itu juga akan dibahas untuk membuat usaha masyarakat, khususnya UMKM sebagai yang paling terdampak, bisa diselamatkan.

Shanti Shamdasani Ramchand, Ketua Bidang Ekonomi DPP NasDem, mengatakan dampak ekonomi akibat pandemi juga sudah dirasakan Indonesia. Berbagai upaya bersama harus dilakukan untuk mencegah kondisi ekonomi semakin menurun. “Dampak ekonomi tentu ada bagi Indonesia. Tantangan bagi kami bagaimana menjaga rantai pasokan berbagai kebutuhan tetap terjaga,” ujar Shanti.

Dialog dengan berbagai negara yang telah lebih dulu mengalami masalah serupa seperti Tiongkok dianggap penting untuk dilakukan. Dengan begitu berbagai masukan bisa didapat untuk memperbaiki kondisi ekonomi. (Ant/P-5)

BERITA TERKAIT