29 April 2020, 06:50 WIB

Presiden Perintahkan Atasi Defisit Pangan


Andhika Prasetyo | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo meminta seluruh jajarannya segera mengatasi defisit pangan di sejumlah daerah. Jokowi mengakui banyak bahan kebutuhan pokok yang defi sit di sejumlah provinsi di tengah pandemi covid-19.

“Laporan yang saya terima untuk stok beras defisit di tujuh provinsi. Stok jagung defisit di 11 provinsi, kemudian stok cabai besar defisit di 23 provinsi,” kata Presiden Jokowi saat membuka rapat kabinet terbatas lewat video conference, kemarin.

Selain itu, Jokowi mengatakan stok cabai rawit juga defi sit di 19 provinsi. Stok telur ayam defisit di 22 provinsi, stok gula pasir defisit di 30 provinsi. Terakhir, stok bawang putih juga diperkirakan defisit di 31 provinsi.

“Langkah-langkah antisipasi harus kita lakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok bagi rakyat kita,” kata Jokowi.

Oleh sebab itu, Jokowi meminta jajarannya terus melakukan perhitungan atau asesmen secara cepat dan akurat terhadap kebutuhan bahan pokok setiap provinsi.

Selain itu, Jokowi meminta jajarannya memastikan distribusi kebutuhan pokok ini dilakukan dengan baik dan merata. Dengan demikian, daerah yang defisit kebutuhan pokoknya dapat disuplai melalui distribusi dari daerah yang surplus.

“Oleh sebab itu, transportasi distribusi pangan antarprovinsi, antarwilayah, dan antarpulau tidak boleh terganggu,” kata dia.

Pada kesempatan itu, Presiden juga mengatakan manajemen pengelolaan beras yang baik merupakan kunci untuk mengantisipasi krisis pangan di dalam negeri.

Ia pun meminta para menteri terkait untuk menghitung secara detail ketersediaan beras di seluruh Tanah Air.

“Tentu dengan memperhitungkan stok yang ada di masyarakat, di penggilingan, di gudang, dan di Bulog,” ujarnya.

Presiden berharap, pada masa puncak panen raya yang jatuh April ini, produksi beras bisa mencapai 5,62 juta ton.

Perum Bulog pun diminta sigap untuk menyerap gabah petani dengan harga yang layak. “Kita juga harus bersiap menghadapi kemungkinan kemarau panjang pada 2020. Walaupun BMKG memprediksi tidak ada cuaca ekstrem tahun ini, kita tetap harus waspadai, terutama yang berkaitan dengan ketersediaan beras nasional kita,” tandasnya.

Distribusi lambat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim bahwa stok cadangan beras nasional saat ini mencapai 6,3 juta ton. Ini belum termasuk stok yang akan tersedia setelah panen pada bulan ini yang mencapai 5,62 juta ton.

“Cadangan beras secara keseluruhan tersedia. Memang ada beberapa daerah yang mengalami cadangan terbatas. Oleh karena itu, pemerintah akan mendorong distribusi dari daerah-daerah yang memiliki stok berlebih,” ujar Airlangga seusai mengikuti rapat terbatas, kemarin.

Pada kesempatan itu, Airlangga juga mengakui ada keterlambatan dalam proses penyediaan dan distribusi pangan.

“Seperti bawang putih, pemerintah sudah mengimpor. Izin impor sudah cukup besar, tetapi realisasi yang masuk baru 72.400 ton. Barang baru akan masuk akhir bulan ini. Kita harap nanti stok akan semakin meningkat di pasar,” katanya.

Di dalam negeri, panen bawang putih sudah berlangsung di Temanggung, Jawa Timur. Namun, jumlah dari hasil panen itu tidak akan cukup. Pasalnya, produksi bawang putih nasional hanya berkisar 25 ribu ton per tahun atau hanya 5% dari total kebutuhan yang mencapai 500 ribu ton per tahun.

Begitu pula untuk komoditas gula pasir. Airlangga mengatakan Perum Bulog telah meneken kontrak untuk pengadaan sekitar 50 ribu ton gula pasir. (PO/AT/FB/TB/JL/YK/JI/X-10)

BERITA TERKAIT