29 April 2020, 06:10 WIB

Menghadapi Covid-19 secara Rasional


Atikah Ishmah W | Ramadan

SEJUMLAH organisasi Islam telah mengeluarkan beberapa fatwa bagi masyarakat untuk menghadapi pandemi virus korona (covid-19). Rais Syuriah PCINU Australia, Nadirsyah Hosen, mengatakan diperlukan ijtihad jama’i atau kerja sama dalam menghadapi masalah pandemi ini. Demikian disampaikan Gus Nadir, panggilan Nadirsyah Hosen, dalam acara diskusi Zona Ngopi yang digelar pada Sabtu (25/4) secara daring.

Ijtihad jama’i ialah ijtihad yang dilakukan bersama-sama atau bermusyawarah terhadap suatu masalah. “Pasalnya, wabah covid-19 bukan hanya terkait masalah kesehatan, melainkan juga berdampak pada sektor lain, seperti ekonomi, komunikasi, dan teknologi,” jelas Gus Nadir yang mengajar di Monash University, Australia.

Nadirsyah menuturkan, dalam menetapkan fatwa, para ulama perlu mendengar pandangan dari pakar yang ahli di bidangnya.  Alquran sangat menghargai orang berakal, orang berilmu, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.

“Persoalan ini kan lintas disiplin, jadi tidak bisa dipecahkan lewat kitab tafsir ataupun kitab hadis. Kita harus tahu bahwa mana wilayah para ulama memberikan fatwa, mana wilayah dokter atau ahli kesehatan masyarakat yang harus memberikan pandangan,” lanjutnya.

Kerja sama lintas disiplin, terang Gus Nadir, harus dilakukan agar masyarakat tidak mendapatkan informasi yang salah. “Tidak bisa lagi ulama mengatakan seolah-olah kami yang paling tahu atau dari pihak kedokteran mengatakan ulama ini kolot, konservatif. Sebelum ulama memberikan fatwa, bolehkah salat Jumat di ganti dengan salat zuhur, itu kan harus mendengar dari dokter, apa beda covid-19 dengan demam berdarah, apa bedanya dengan flu biasa, masa penyebarannya seperti apa,” tuturnya. Gus Nadir menambahkan jika ulama dan pakar berjalan sendiri-sendiri, aturan yang dikeluarkan tidak akan tepat sasaran.

Selain itu, dibutuhkan rasionalitas untuk menghadapi pandemi covid-19. Seperti diketahui sebelumnya, banyak pihak yang menyebut wabah ini merupakan azab, bahkan tentara Allah. Menurut Gus Nadir, jika seseorang memiliki hati yang bersih, dia tidak akan berpikiran demikian. “Kalau orang yang sangat bersih hatinya dan dekat dengan Allah setiap saat, (pandemi) itu dianggap sebuah sinyal dari Tuhan, merasa teguran untuk pribadi,” terangnya.

Kemudian, dia menilai masyarakat perlu memperbaiki konsep beribadah. Selama ini konsep beribadah yang beredar di masyarakat hanya untuk menyembah Allah. Jika tidak berani salat berjemaah di masjid, kita dianggap lebih takut pada covid-19 daripada kepada Tuhan. Padahal, sebenarnya beribadah ialah untuk diri sendiri.

“Kita yang butuh ibadah. Karena itu, menyembahnya tetap kepada Allah, tapi benefit-nya untuk ibadah tetap pada kita. Jadi, buat apa kita ibadah kalau kita tidak mendatangkan rasa bahagia, rasa kenyamanan, dan keamanan untuk orang-orang yang kita cintai,” ujarnya.

“Tuhan tidak butuh ibadah kita. Jika seluruh penduduk di dunia ini beriman, tidak akan menambah kemuliaan Tuhan. Sebaliknya, kalau satu bumi ini tidak salat, juga tidak akan menurunkan kemuliaan Tuhan,” imbuhnya.

Di samping itu, ibadah bukan hanya berupa ritual salat yang kita lakukan setiap hari, melainkan juga ada kegiatan lain yang dinilai sebagai ibadah, seperti bekerja dan membantu sesama. “Beragama itu aspeknya banyak, tidak hanya dinilai dari persoalan ibadah murni,” terangnya.

Nadirsyah menuturkan kita harus tetap positif dalam menghadapi persoalan covid-19 karena tidak ada hal sia-sia yang Allah ciptakan.

“Tidak ada Allah menciptakan itu dengan sia-sia. Jangan menganggap bahwa virus ini juga tidak punya sisi positif, pasti juga ada sisi positifnya. Karena itu, kita di tengah-tengah saja. Misalnya, virus ini memang membuat kita lebih dekat pada Allah, satu sisi juga disikapi dengan rasional,” tandasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT