29 April 2020, 05:15 WIB

Akhirat untuk Penegakan Keadilan yang Haq


Ifa/H-3 | Ramadan

TAFSIR Al Misbah episode tujuh masih melanjutkan Surah Ad Dukhan. Ayat 34 mengawali tafsir dengan peringatan atas kisah-kisah orang musyrik terdahulu yang tidak memercayai kehidupan setelah kematian.

Allah berfirman dalam ayat 34-35 dalam surah ini, “Inna haula’i layaqulun in hiya illa mautatunal-ula wa ma nahnu bimunsyarin.”

Mereka sungguh aneh karena beranggapan bahwa kematian yang dialami di dunia ini ialah ketiadaan. Pandangan semacam ini yang dulu dianut banyak orang, yang masih dipercaya sebagian orang hingga saat ini. Mereka berdalih seperti disebut dalam ayat 36, “Kalau memang kamu benar bahwa ada kehidupan setelah kematian, coba hadirkan leluhur kami lagi di dunia ini.”

Mereka keliru. Dianggapnya bahwa kehidupan setelah kematian itu ialah kehidupan kembali di dunia ini. Mereka ingin berkata kalau memang mereka itu ada dan hidup lagi setelah kematiannya, kenapa dia tidak datang lagi di bumi?

Memang ini bisa kita jadikan sebagai pemahaman bahwa ada reinkarnasi. Reinkarnasi yang dianut sebagian pengikut agama dipahami sebagai hidup lagi di dunia, hanya dalam bentuk yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya.

Tentu saja ini tidak mungkin karena Allah sudah memiliki kebijakan atau penetapan bahwa kehidupan itu ialah kehidupan di akhirat. Orang-orang yang durhaka sebagaimana mereka berpotensi mendapat siksa Allah di dunia.

Maka, dibawalah perbandingan apakah mereka itu lebih baik dari kaum Tubba’ (gelar dari penguasa Yaman), apakah lebih baik, lebih kuat fisiknya, lebih banyak ilmunya, lebih kaya?

“Karena kedurhakaan mereka, Kami binasakan. Sungguh mereka itu semua adalah orang-orang yang mantap kedurhakaannya kepada Tuhan.”

Mereka membantah, mengapa harus ada kehidupan di hari kemudian? Sementara itu, langit dan bumi ini Allah ciptakan bukan tanpa tujuan.

Pada ayat 38-39 tertulis, “Kami tidak menciptakan langit dan bumi ini untuk sesuatu yang tanpa tujuan yang benar. Kami tidak menciptakannya, kecuali untuk memantapkan kebenaran.”

Sebagai contoh, jika terjadi perselisihan di dunia, keadilan di sini (dunia) belum mencapai haq. Kalau begitu, perlu ada hari setelah kematian ini yang mana haq dan keadilan itu tampak dengan jelas.

Hari kiamat memisahkan orang baik dan orang buruk. Orang baik dipisahkan sehingga masuk surga dan orang buruk masuk neraka. Hari itu akan terjadi pada hari setelah kematian manusia. Di sanalah dia hidup lagi.

Pada ayat 40 disebutkan, “Inna yaumal-fasli miqatuhum ajma’in.”

Waktu yang ditetapkan buat mereka, siapa yang benar siapa yang salah.

Pada hari itu, di hari kiamat, orang tidak akan bisa membantu atau dibantu orang lain, illa mar rahimallah, kecuali yang dirahmati Allah. Ada orang-orang yang dirahmati Allah yang dekat kepada Allah, boleh jadi bisa membantu. Itulah yang dinamai syafaat. (Ifa/H-3)

BERITA TERKAIT