29 April 2020, 05:40 WIB

Booster Imun Tubuh dengan Berpuasa


Ardi Teristi Hardi | Humaniora

KARENA wabah virus korona baru (covid-19), Rina, 40, seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Bekasi, Jawa Barat, mengaku dirinya harus pintar-pintar mengatur menu sahur dan berbuka puasa pada Ramadan tahun ini.

Ia berusaha agar kecukupan gizi keluarganya tetap terpenuhi, salah satunya dengan selalu menyediakan kurma dan sayur berkuah, apa pun lauknya.

“Saat berbuka minumnya air putih dan teh manis. Saya berusaha tidak menyajikan minuman dingin yang bisa memicu batuk, pilek, atau radang tenggorokan karena berabe nanti. Nyari dokter THT kan susah karena covid-19,” tuturnya kepada Media Indonesia, tadi malam.

Jika dilakukan dengan benar, puasa sebulan penuh selama Ramadan dapat meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh. Sebab, puasa dapat memperbaiki jaring­an-jaringan sel yang rusak, merangsang produksi sel-sel darah putih baru yang dibutuhkan untuk meregenerasi sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana prosesnya sehingga puasa bisa menaikkan imun tubuh? Vivien Maryam, spesialis penyakit dalam dari Primaya Hospital Tangerang (d/h RS Awal Bros), menjelaskan saat berpuasa akan terjadi hematopoietik (proses pembentukan komponen sel darah).

Sel-sel imunitas tubuh akan diproduksi lebih banyak, seperti sel limfosit T dan sel limfosit B untuk pertahanan tubuh. Selanjutnya, sel limfosit T dan sel limfosit B tersebut dapat menghasilkan antibodi untuk melawan berbagai virus atau kuman yang masuk.

“Saat puasa, sistem pencernaan yang sebelumnya bekerja terus menerus selama 11 bulan akan  beristirahat. Pada waktu istirahat tersebut, sel-sel tubuh akan memperbaiki diri,” ungkapnya, kemarin.

Ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) R Dwi Budiningsari, mengingatkan kekebalan tubuh sangat dipengaruhi asupan gizi. Orang yang gizinya kurang sangat rentan terhadap infeksi covid-19.

Ia melanjutkan, berkurangnya massa lemak tubuh karena puasa sebulan penuh juga dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Pasalnya, lemak berlebih akan memicu produksi sel penyebab peradangan organ tubuh.

“Batasi konsumsi gula ja­ngan lebih dari 50 gram sehari atau setara dengan empat sendok makan karena bisa memengaruhi sel imun untuk memerangi penyakit,” bebernya.

Selain asupan gizi seimbang, faktor lain yang bisa juga meningkatkan imun ialah produksi hormon endorfin yang diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar pituitari. Hormon ini akan aktif saat manusia merasa bahagia (tertawa) dan mendapat istirahat yang cukup.

“Puasa itu kan bukan hanya fisik, tapi juga spiritual. Kalau kita jalani puasa dengan baik, hormon endorfin kita akan keluar. Kalau kita bahagia, ikhlas mengatasi segala ketegangan ini,” tambah dokter ahli gizi dan magister filsafat Tan Shot Yen.

Panjangkan usia

Satu lagi kabar baiknya, puasa juga dapat memperpanjang usia karena terjadinya pembatasan asupan kalori. Bukti epidemiologis tentang manfaat pembatasan kalori dan usia panjang ditemukan pada penduduk Okinawa, Jepang, yang bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun.

“Kuncinya adalah konsumsi kalori 60%-83% jika dibandingkan orang Jepang pada umumnya. Jadi, dengan berpuasa kita berpeluang mencapai umur lebih panjang karena di saat puasa umumnya kita hanya makan 80% dari asupan kalori sehari-hari,” ungkap Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB Ali Khomsan, Sabtu (25/4). (Ata/YP/Ifa/H-2)

BERITA TERKAIT