29 April 2020, 02:15 WIB

AS Salahkan Tiongkok soal Covid-19


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN AS Donald Trump menyebut Tiongkok sebetulnya dapat menghentikan virus korona (covid-19) sebelum melanda dunia. Saat ini, kata dia, pemerintahannya sedang melakukan investigasi atas apa yang sebenarnya terjadi.

“Kami melakukan penyelidikan yang sangat serius. Kami tidak senang dengan Tiongkok,” kata Trump dalam konferensi pers Gedung Putih, kemarin.

“Ada banyak cara Anda dapat meminta pertanggungjawaban mereka. Kami percaya itu bisa dihentikan pada sumbernya. Itu bisa dihentikan dengan cepat dan tidak akan menyebar ke seluruh dunia,” tambahnya.

Kritik Trump ialah yang terbaru dari pemerintahannya, menargetkan penanganan Tiongkok terhadap wabah covid-19 yang dimulai akhir tahun lalu di Kota Wuhan, Tiongkok, dan telah berkembang menjadi pandemi global.

Saat ditanya apakah AS akan mempertimbangkan hal yang sama tentang editorial surat kabar Jerman baru-baru ini, yang meminta Tiongkok untuk membayar Jerman senilai $165 miliar sebagai ganti rugi karena kerusakan ekonomi akibat virus tersebut, Trump mengatakan bahwa pihaknya bisa melakukan sesuatu yang lebih mudah dari itu.

“Kami berbicara tentang lebih banyak uang daripada yang dibicarakan Jerman. Kami belum menentukan jumlah akhir,” kata Trump. “Ini sangat substansial,” tambahnya.

Menurut data situs berita AFP, kini lebih dari tiga juta kasus virus korona baru secara resmi terdaftar di seluruh dunia, dengan hampir 80% di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Setidaknya, 3.003.344 infeksi telah terdeteksi, termasuk 209.388 kematian. Sebagian besar di Eropa terdapat 1.393.779 kasus dan 126.233 kematian.

Amerika Serikat, negara tempat pandemi berkembang paling cepat, memiliki 980.008 kasus, termasuk 55.637 kematian. Jumlah kasus yang terdeteksi diyakini hanya mewakili sebagian kecil dari jumlah infeksi yang sebenarnya karena sebagian besar negara hanya melakukan tes terbatas.


Wajib masker di Jerman

Pemerintah Jerman kemarin mewajibkan penggunaan masker di transportasi umum dan sebagian besar toko, bahkan menawarkan maskermasker tersebut di mesin penjual otomatis.

Meski demikian, pemantauan aturan itu berbeda-beda di tiap wilayah. Aturan di Berlin paling santai, yakni masker hanya diperlukan saat berada di transportasi umum dan tidak untuk di toko-toko. Tidak ada denda jika tidak mematuhinya. 

Sementara itu, di Bavaria, ada ancaman denda sebesar €150 bagi siapa pun yang melanggar aturan dan bagi pemilik toko yang gagal membuat stafnya mengenakan masker akan didenda €5.000.

Dengan aturan barunya tersebut, Jerman mengikuti jejak sejumlah negara Eropa yang sekarang mewajibkan penggunaan masker, termasuk Austria, Polandia, dan Republik Ceko. Aturan mengenakan masker datang saat Jerman perlahan mulai melonggarkan pembatasan wilayah. Toko-toko kecil, dealer mobil, dan beberapa sekolah telah diizinkan untuk dibuka kembali. Adapun rencana untuk mengurangi pembatasan lainnya kini sedang disusun. (AFP/Hym/X-11)

BERITA TERKAIT