28 April 2020, 19:28 WIB

Amphuri Optimistis Ibadah Haji Dapat Terlaksana Tahun Ini


Syarief Oebaidillah | Humaniora

Di tengah pandemi global Covid-19, ada secercah harapan bahwa penyelenggaraan ibadah haji tahun ini akan dapat terlaksana.

Pasalnya, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam penanganan pencegahan Covid-19 mulai menghentikan pemberlakuan jam malam di sebagian kota Negara penghasil minyak itu.

Terkait hal itu, Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) yang menaungi penyelenggara ibadah haji khusus, optimistis penyelenggaraan haji bisa dilaksanakan tahun ini.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Amphuri Joko Asmoro lewat telekonferensi memprediksi penyelenggaraan ibadah haji akan disesuaikan dengan protokol kesehatan penangana covid-19 oleh pemerintah Arab Saudi.

Menurut Joko, penanganan covid-19 yang dilakukan pemerintah Kerajaan Saudi selama ini sangat baik, sehingga perlahan mampu meminimalisir penyebaran covid-19.

Selain itu, mulai hari ini, pihak Kerajaan Saudi juga telah mulai membuka kembali jam malam yang sebelumnya diberlakukan, selain di dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Meskipun, semua aktivitas masih tetap dalam pengawasan pihak berwenang dalam rangka pencegahan covid-19.

Baca juga Jika Haji 2020 Batal, Bagaimana Nasib Setoran Lunas Jemaah?

“Saya mendapat kabar mulai hari ini, Pemerintah Arab Saudi telah mengizinkan kembali beroperasinya toko, mall, dan kafe di sebagian kota. Tentunya, ini menjadi pertanda baik,” kata Joko Asmoro dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia hari ini

Joko mengungkapkan, sejak dua minggu lalu Amphuri telah memberikan masukan kepada WHUC (World Hajj and Umrah Convention) dalam rangka survei tentang haji yang disampaikan ke Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi. Setidaknya ada 25 negara pengirim jemaah haji yang disurvei WHUC, termasuk Indonesia sebagai negara jemaah haji terbesar di dunia.

Joko menjelaskan, Amphuri selama wabah covid 19 tetap membantu melayani anggota yang terdampak, melakukan pembinaan kepada Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK), serta menggelar program Manasik Haji secara online bagi para calon jemaah.

Program Manasik Haji Online ini dilakukan setiap hari selama bulan Ramadan melalui platform youtube. Ia berharap, melalui program ini para calon jamaah haji khusus dapat terus belajar ilmu soal haji dan menguatkan niat hajinya serta terus berdoa agar pandemi covid-19 segera berakhir, sehingga penyelenggaraan haji dapat dilaksanakan pada tahun ini.

Terkait survei WHUC terhadap persiapan negara pengirim jemaah haji, sebelumnya Kementerian Agama (Kemenag) juga menyampaikan hal yang sama terkait upaya WHUC yang melakukan survei persiapan haji yang dilakukan negara pengirim jemaah haji.

Melalui keterangan tertulis Dirrektur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar saat membuka Rapat Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) melalui telekonferensi mengatakan bahwa dari 25 negara yang disurvei salah satunya Indonesia.

“Dari 25 negara tersebut, salah satunya termasuk Indonesia, telah menyampaikan hasil survei kepada WHUC,” kata Nizar di Jakarta, Senin (27/4).

Menurut Nizar, survei ini diselenggarakan kerjasama Biro Perencanaan Kementerian Haji dengan WHUC. Hasil survei akan dilaporkan kepada Menteri Haji dan Raja Salman sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.

Baca juga : ni Skenario Kemenag Jika Ibadah Haji 2020 Ditiadakan

“Hasil survei ini nantinya diharapkan dapat memberikan masukan untuk Kementerian Haji atau Raja Salman dalam mengambil kebijakan tentang penyelenggaraan haji 1441H/2020M,” ujarnya.

Terpisah, Konsul Haji KJRI Jeddah, Arab Saudi, Endang Jumali menjelaskan survei WHUC antara lain menggali informasi tentang persiapan dan langkah kesehatan yang diambil setiap negara dalam penanganan Covid-19. Selain itu, survei juga terkait kesiapan setiap negara jika kebijakan haji akan mempertimbangkan pembatasan aspek umur maksimal 50 tahun.

“Survei juga menanyakan tentang kesiapan negara jika harus ada karantina sebelum perjalanan dan ketika tiba di Saudi. Juga tentang kesiapan setiap negara jika ada pengurangan kuota sebanyak 20%,” kata Endang dalam keterangan tertulisnya di website Kemenag.

Endang menambahkan, pihaknya juga telah mendapat informasi pemerintah Arab Saudi mulai 27 April ini sudah tidak memberlakukan lagi jam malam selain kota Mekkah dan Madinah.

“Ada informasi yang kami dapatkan bahwa terdapat perkembangan positif terkait penanganan Covid-19 di Arab Saudi. Sehingga, sejak hari ini, mall, toko, dan kafe sudah diperkenankan buka kembali. Semoga ini pertanda baik buat kita.Raja Salman juga telah menyetujui Majelis Kabinet terkait pelaksanaan MoU tentang Fast Track bagi negara-negara pengirim jamaah haji,” tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT