28 April 2020, 19:00 WIB

Masalah Rokok Seharusnya Masuk Program Penanganan Covid-19


Ihfa Firdausya | Humaniora

IKATAN Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menyerukan pengendalian konsumsi produk tembakau masuk dalam program penanganan covid-19. Mengingat, dampak buruk rokok dapat meningkatkan faktor risiko penularan dan kematian akibat covid-19.

Ketua Umum IAKMI, Ede Surya Darmawan, menekankan persoalan ini cukup serius karena Indonesia memiliki jumlah perokok yang sangat banyak. Berdasarkan data yang dihimpun, Ede mengungkapkan jumlah perokok di Indonesia mencapai 65,19 juta orang, atau tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

"Jumlah perokok Indonesia sama dengan jumlah penduduk Filipina atau Thailand," tutur Ede melalui konferensi pers virtual, Selasa (28/4).

Baca juga: Awas, Perokok Lebih Rentan Terinfeksi Covid-19

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, menyoroti dampak merokok di masa pandemi. Menurut Agus, merokok bisa meningkatkan risiko terjangkit covid-19, memperberat infeksi dan meningkatkan risiko kematian akibat covid-19.

Hal itu disebabkan empat faktor. Di antaranya, merokok menyebabkan gangguan pada sistem imunitas, meningkatkan regulasi reseptor ACE2, menyebabkan terjadinya komorbid dan meningkatkan transimisi virus ke tubuh melalui media tangan. Agus mencontohkan gangguan pada imunitas saluran napas.

"Di saluran napas kita ada mekanisme pembersihan saluran napas oleh silia-silia (organel sel yang berfungsi sebagai alat bantu pergerakan) halus, hingga semua kotoran dan bakteri dibersihkan misalnya lewat batuk," ungkap Agus.

Kebiasaan merokok, lanjut dia, melemahkan hampir 50% fungsi silia hanya dengan 2-3 kali hisapan asap rokok. Selain itu, rokok berpengaruh terhadap sel imunitas tubuh. "Kalau silianya terganggu, akan terdapat banyak dahak. Kemudian kuman itu dapat menempati dahak tersebut. Akibatnya terjadi risiko infeksi," jelasnya.

Baca juga: Rokok Bisa Cegah Virus Korona, Pakar UGM: Tidak Benar

Penelitian di Tiongkok, kata dia, menunjukkan 58% penderita covid-19 berjenis kelamin pria. "Nah, di sana pria itu 20 kali kebiasaan merokoknya lebih tinggi daripada perempuan. Di Indonesia belum ada data. Namun sebagai pre-eliminary studi, riset di RS Persahabatan menyatakan 58,3%  pasien covid-19 berjenis kelamin pria itu perokok," imbuhnya.

Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI), Esti Nurjadin, menyebut dampak rokok terhadap kasus covid-19 harus menjadi perhatian seiring pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Menurutnya, penerapan PSBB membuat berbagai kegiatan dipusatkan di rumah. Oleh karena itu, penting menjaga lingkungan rumah yang bersih dan sehat bagi seluruh anggota keluarga.

Komnas Pengendalian Tembakau menyerukan Surat Terbuka kepada Presiden Joko Widodo untuk lebih memperhatikan persoalan rokok, sebagai berikut:

1. Menghimbau masyarakat yang merokok untuk berhenti atau mengurangi merokok dalam rangka mencegah meningkatnya angka kematian covid-19.

Baca juga: Puntung Rokok Membunuh Tumbuhan Selama 1 Dekade

2. Memperkuat penanganan covid-19 dengan larangan merokok khususnya di tempat-tempat berisiko tinggi termasuk rokok elektronik.

3. Memperketat larangan iklan rokok di seluruh media agar anak-anak yang dalam masa belajar di rumah tidak mudah terpengaruh iklan rokok.

4. Memberlakukan larangan penjualan rokok atau menutup pajangan penjualan rokok di belakang kasir toko-toko yang mudah dilihat oleh anak-anak.

5. Memperkuat penegakan hukum kawasan tanpa rokok.

6. Meningkatkan aturan KTR (kawasan tanpa rokok) melalui rumah tanpa rokok demi mendukung belajar, kerja, dan ibadah yang aman dan nyaman di rumah.

7. Memperkuat unit-unit layanan berhenti merokok.

(OL-11)

BERITA TERKAIT