28 April 2020, 12:30 WIB

Boris Johnson Sebut Inggris Berada pada Risiko Maksimum Pandemi


Nur Aivanni | Internasional

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa kini Inggris berada pada tahap berisiko maksimum dalam wabah virus korona. Ia pun meminta orang-orang untuk tetap bersabar dalam kondisi penguncian wilayah atau lockdown.

"Kita sekarang mulai mengubah gelombang penyakit ini," kata Johnson saat update meeting untuk pertama kalinya sejak pulih dari infeksi virus korona, seperti dikutip dari BBC, Selasa (28/4).

Ia mengatakan lockdown tidak akan dilonggarkan terlalu cepat. Dia menambahkan bahwa rincian tentang setiap perubahan akan ditetapkan pada hari-hari mendatang.

Menurutnya, beberapa layanan NHS Inggris yang dihentikan sementara, yaitu perawatan kanker akan dilanjutkan.

Baca juga: Trump Salahkan Tiongkok Terkait Penyebaran Covid-19

Perdana Menteri Inggris kembali ke Downing Street pada Minggu setelah lebih dari tiga minggu libur karena sakit.

Johnson mengatakan dia memahami kekhawatiran para pemilik bisnis yang tidak sabar untuk segera mengakhiri lockdown. "Tetapi mengakhiri lockdown terlalu cepat, bisa menyebabkan lonjakan kedua dalam kasus. Ini akan menyebabkan lebih banyak kematian, bencana ekonomi, dan kembali diberlakukannya pembatasan," lanjutnya.

Ia mengatakan bahwa ada tanda nyata sekarang bahwa Inggris melewati puncak wabah. Ini bisa dilihat dari menurunnya pasien rawat inap di rumah sakit dan lebih sedikitnya pasien covid-19 dalam perawatan intensif.

Johnson mengatakan begitu Inggris memenuhi lima tes untuk melonggarkan pembatasan, termasuk penurunan yang konsisten dalam tingkat kematian dan memastikan NHS bisa mengatasinya. Menurutnya, jika itu tercapai, maka itu akan menjadi waktu untuk beralih ke tahap kedua dalam perang melawan wabah korona. (BBC/OL-14)

BERITA TERKAIT