28 April 2020, 09:45 WIB

Khawatirkan Anak-Anak, WHO: Pandemi Covid-19 Jauh dari Selesai


Nur Aivanni | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO), pada Senin (27/4), mengatakan bahwa pandemi virus korona baru (covid-19) "masih jauh dari selesai" dan masih mengganggu layanan kesehatan normal. Hal itu terutama imunisasi yang menyelamatkan jiwa untuk anak-anak di negara-negara termiskin.

Badan PBB itu khawatir mengenai kenaikan jumlah kasus dan kematian di Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin dan beberapa negara Asia, bahkan ketika jumlahnya mendatar atau menurun di beberapa negara kaya.

"Kita memiliki jalan panjang di depan dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual di Jenewa, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa (28/4).

Ia pun menambahkan bahwa gelombang kedua infeksi tersebut dapat dicegah dengan tindakan yang benar.

Covid-19, yang muncul akhir tahun lalu di kota Wuhan, Tiongkok, telah menginfeksi 2,97 juta dan merenggut 205.948 nyawa, menurut penghitungan terbaru Reuters.

Tedros menyatakan kekhawatirannya bahwa kesehatan anak-anak sedang terancam akibat pandemi virus korona pada program vaksinasi untuk penyakit lain.

"Anak-anak mungkin berisiko relatif rendah dari penyakit parah dan kematian akibat covid-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus korona baru, tetapi bisa berisiko tinggi dari penyakit lain yang dapat dicegah dengan vaksin," kata Tedros.

Baca juga: Lebih dari 150 Dokter Tewas Akibat Covid-19 di Italia

Sekitar 13 juta orang, sambung Tedros, telah terkena dampak di seluruh dunia oleh keterlambatan imunisasi rutin terhadap penyakit termasuk polio, campak, kolera, demam kuning dan meningitis.

Mengutip aliansi vaksin global GAVI, Tedros mengatakan bahwa kekurangan vaksin terhadap penyakit lain dilaporkan di 21 negara sebagai akibat dari pembatasan perbatasan dan perjalanan yang disebabkan oleh pandemi virus korona.

"Jumlah kasus malaria di Afrika sub-Sahara dapat berlipat ganda," katanya. "Itu tidak harus terjadi, kami bekerja dengan negara-negara untuk mendukung mereka," tambahnya. (CNA/A-2)

 

 

BERITA TERKAIT