28 April 2020, 08:16 WIB

10 Saksi Diperiksa di Kasus Pembagian Nasi Anjing di Warakas


Yurike Budiman | Megapolitan

POLRES Metro Jakarta Utara telah memeriksa 10 saksi terkait kasus pemberian nasi bungkus berlogo kepala anjing. Bantuan yang diberikan di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sempat menggegerkan warga setempat.

"Kami sedang melakukan proses dalam tahap penyelidikan di mana kami melakukan penyelidikan terhadap saksi-saksi. Ada 10 orang yang kami minta keterangan," kata Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Budhi Herdi Susianto, di Pademangan, Jakarta Utara, Senin (27/4).

Pihaknya telah memeriksa tiga orang dari pihak masyarakat Warakas tepatnya di sekitar Masjid Babah Alun, Warakas. Tujuh saksi lainnya merupakan pengurus yayasan yang memberikan bantuan nasi siap saji tersebut.

"Dari keterangan sejumlah saksi, saat ini kami belum menyimpulkan (hasil pemeriksaan)," kata Budhi.

Diketahui, pada Minggu (26/4) kemarin, pihak yayasan terkait telah mendatangi Polres Metro Jakarta Utara dan bertemu dengan warga Warakas. Pertemuan ini untuk mengklarifikasi terkait pemberitaan yang meresahkan masyarakat perihal nasi anjing.

"Adanya permintaan maaf dari pihak yayasan kami tentunya mengapresiasi langkah gentle yang dilakukan oleh mereka. Namun demikian, tentunya proses ini akan terus berjalan dan akan kami lanjutkan tahapannya," ujar Budhi.

Baca juga: Kapolres Jakut: Proses Hukum Nasi Anjing Jalan Terus

Beberapa waktu lalu, masyarakat digegerkan dengan adanya pembagian nasi bungkus yang bertuliskan 'Nasi Anjing, Nasi Orang Kecil, Bersahabat dengan Nasi Kucing #Jakartatahanbanting' di kemasan nasi.

Sejumlah nasi bungkus itu dibagikan tak jauh dari Masjid Babah Alun, Warakas, Jakarta Utara. Sumbangan tersebut disalurkan oleh sebuah komunitas bernama ARK Qahal di kawasan Jakarta Barat. Polisi juga telah memeriksa kandungan daging dalam paket nasi bungkus tersebut.

Usai diselidiki seluruh komposisi makanan dibuat dengan bahan-bahan halal. Polisi menemukan lauk seperti cumi, sosis daging sapi, dan teri. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, menegaskan tidak ada daging anjing seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

Yusri mengungkapkan sang pengirim memakai istilah anjing karena merujuk pada sifat setia dan mampu bertahan hidup. Nasi anjing juga dinilai

memiliki porsi lebih banyak dibandingkan panganan 'nasi kucing', yang biasa

dikenal di daerah Jawa Tengah. (A-2)

BERITA TERKAIT