28 April 2020, 06:20 WIB

Presiden FIFA Diduga Main Mata dengan Kejaksaan Swiss


Rahmatul Fajri | Sepak Bola

PRESIDEN FIFA Gianni Infantino disebut mencoba melakukan pendekatan kepada Jaksa Agung Swiss agar penyelidikan yang menyangkut dirinya dihentikan. Sebelumnya, Kejaksaan Agung Swiss (OAG) membuka penyelidikan terhadap Infantino pada awal 2016, tidak lama setelah ia  terpilih sebagai presiden induk sepak bola dunia itu.

Kejaksaan Agung Swiss melihat adanya peran Infantino dalam pemberian kontrak hak siar televisi kepada sebuah perusahaan saat ia menjabat Direktur Hukum UEFA. Menurut surat kabar Swiss, Infantino merasa khawatir dengan penyelidikan itu dan meminta teman masa kecilnya, Rinaldo Arnold yang merupakan jaksa penuntut senior di Swiss untuk membersihkan namanya. Keinginan itu tertulis dalam surat elektronik yang ia kirimkan kepada Arnold.

"Saya akan mencoba menjelaskan kepada OAG bahwa semuanya harus dibereskan sesegera mungkin. Sangat jelas bahwa saya tidak ada hubungannya dengan masalah ini," tulis Infantino dalam email yang dikutip oleh Tribune de Geneve.

Arnold kemudian mengatur pertemuan Infantino dengan Jaksa Agung Michael Lauber. Mereka bertemu pada 22 April 2016. Namun, tak diketahui apa yang mereka bicarakan saat itu.

FIFA kemudian membantah kabar itu sekaligus mengatakan berita Tribune de Geneve jelas merupakan tindakan peretasan yang ilegal dan kriminal. "Infantino tidak pernah mengatakan dia ingin membersihkan namanya," tulis FIFA.

Meski demikian, Tribune de Geneve merasa tetap ada yang janggal dengan hubungan Infantino dan OAG. Pada November 2017, setelah pertemuan informal ketiga antara Infantino dan Lauber, OAG menutup penyelidikan kasus pemberian hak siar yang melibatkan Infantino itu. Tribune de Geneve menduga ada 20 kali obrolan dalam rentang waktu Juli hingga September 2016 antara jaksa Swiss dan pengacara FIFA.

"Para penuntut rupanya membantu FIFA merumuskan permintaan itu. Sebuah sikap yang tampaknya tidak sesuai dengan tugas OAG yang tidak boleh berpihak," tulis Tribune de Geneve. (AFP/R-1)

BERITA TERKAIT