28 April 2020, 05:45 WIB

Peneliti BPPT Membenarkan Calon Ibu Kota Negara Rentan Tsunami


Antara | Humaniora

PAKAR tsunami sekaligus peneliti senior Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko membenarkan bahwa calon ibu kota negara yang baru rawan terhadap smong.  Smong merupakan istilah tradisional masyarakat di Pulau Simeulue, Aceh, untuk menyebut sebuah gelombang laut besar yang melanda setelah sebuah gempa bumi menghantam.Hal itu menanggapi publikasi ilmiah yang dilakukan oleh tim geologi asal Inggris dan Indonesia berjudul Indonesian Throughflow as a preconditioning mechanism for submarine landslides in the Makassar Straits yang diunggah oleh BBC News.

Kajian ilmiah milik Rachel E Brackenridge, Uisdean Nicholson, Benyamin Sapiie, Dorrik Stow dan Dave R Tappin yang diterbitkan Geological  Society pada 1 April 2020 menjelaskan peran penting Selat Makassar sebagai pintu gerbang utama arus laut Indonesia yang mengangkut air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia.

Widjo Kongko menjelaskan bahwa calon ibu kota baru di Kalimantan Timur ini rentan dilanda smong atau tsunami dari sumber longsor bawah laut . Ada potensi volume sekitar 4 juta meter kubik (m3) bisa menimbulkan tsunami setinggi lebih dari 15 meter seperti yang pernah terjadi di Papua Nugini pada 1998.

"Kami pernah sampaikan tahun lalu. Kaji detil perlu untuk siapkan PRB (Pengurangan Risiko Bencana)," kata Widjo Kongko seraya menekanan pentingnya upaya PRB bagi ibu kota baru dengan hasil kajian tersebut, Kamis (23/4).

Tsunami di Palu dan Krakatau menjadi contoh smong yang terjadi beberapa tahun lalu yang diakibatkan oleh longsor bawah laut.

"Smong dari sumber longsor di Indonesia kejadiannya lebih banyak dari yang diperkirakan semula," tambahnya.

Meski demikian, Widjo mengatakan kajian soal longsor bawah laut yang mengakibatkan smong di Indonesia tidak banyak. Di wilayah barat Indonesia, dari survei batimetri detil cacat-parut bekas longsor bawah laut menjadi kajian kolega peneliti di Potsdam. Sementara di Indonesia tengah dan timur, atau Laut Banda, suspek longsor bawah laut lebih banyak lagi. Smong longsor bawah laut bisa sangat tinggi, lebih dari 50 m atau 100 m, ujar dia.

Kajian yang dilakukan tim peneliti geologi Inggris dan Indonesia menggunakan data seismik untuk menginvestigasi sendimen dan struktur bawah Laut Makassar. Mereka memetakan bukti longsoran-longsoran bawah laut purba di Selat Makassar antara Pulau Kalimatan dan Sulawesi. Dari kajian awal memang jika ada longsoran bawah laut besar terulang saat ini, itu akan memicu tsunami yang mampu menggenangi Teluk Balikpapan, sebuah area dekat dengan Ibu Kota Negara yang diusulkan. Namun demikian tim peneliti internasional itu sangat berhati-hati terhadap reaksi yang berlebihan, mereka masih harus banyak melakukan penilaian terhadap kondisinya dengan tepat.

Sebagai catatan, ada sejumlah tsunami yang menghancurkan wilayah Indonesia dalam 15 tahun terkahir, dipicu oleh berbagai mekanisme. Gempa Megathrust dan tsunami di lepas pantai Sumatra di 2004 menelan korban 220.000 jiwa di sepanjang wilayah Samudra Hindia, 165.000 korban tersebut ada di Sumatra menjadikan bencana alam terburuk dalam 100 tahun terakhir.

baca juga: Tsunami Ancam Kawasan Ibu Kota Baru

Lalu mekanisme tsunami Palu pada 28 September 2018  kemungkinan dihasilkan dari kombinasi gempa bumi besar dari seafloor rupture dan longsor bawah laut. Dua gelombang, tercatat dengan ketinggian maksimal lebih dari 10 m terjadi, 4.000 korban jiwa karena sapuan gelombang tsunami dan likuefaksi akibat goncangan sesmik. Dan pada Desember 2018, bencana alam tersebut diikuti oleh tsunami Anak Krakatau. Penyebabnya  gunung runtuh yang kemungkinan dipicu oleh erupsi gunung berapi tersebut dan menghasilkan tsunami yang menelan korban sekitar 400 jiwa di pesisir Jawa dan Sumatra. (OL-3)

BERITA TERKAIT