28 April 2020, 05:25 WIB

Keangkuhan Firaun Membawa Kehancuran


Fer/H-1 | Ramadan

TAFSIR Al Misbah kali ini masih mengkaji surah ke-44 dalam Alquran, yakni Surah Ad Dukhan yang berarti kabut. Dalam ayat 17-32, disebutkan tentang rincian bentuk ujian dan peringatan yang pernah Allah berikan kepada kaum nabi terdahulu, yang menolak kebenaran yang disampaikan kepada mereka. Bahkan, Allah SWT menceritakan keangkuhan Firaun hingga kehancurannya.

Ayat 17 berbunyi wa laqad fatanna qablahum qauma fir’auna wa ja’ahum ras’lung karim, artinya: Dan sungguh, sebelum mereka Kami benar-benar telah menguji kaum Firaun dan telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia.

Dalam ayat itu disebutkan ‘fatanna’ atau fitnah. Namun, fitnah itu beda dengan bahasa Arab. Pada mulanya berarti membakar emas untuk menguji atau mengetahui kadar (emasnya). Maka, setiap manusia diperlakukan Allah dengan cara mengujinya.

Sungguh Kami telah memperlakukan kaum Firaun, yang hadir sebelum masyarakat Mekah itu, dengan cara menguji. Kenapa kita berkata demikian? Yang mau menguji itu ingin tahu dan tentunya belum tahu.

Allah sudah tahu. Jadi, kita berkata memperlakukan bagaikan perlakuan orang yang datang kepada mereka, Rasul Karin (baik segala bidang). Rasul ini menyampaikan kepada kaum Firaun dengan ayat berbunyi, “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya.”

Pada masa Nabi Musa, hidup masyarakat Mesir (bukan Yahudi) dan masyarakat Yahudi. Nabi Musa diutus untuk masyarakat Yahudi yang ditindas Firaun.

Diteruskan ayat 19 berbunyi, “Dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.”

Apa yang dimaksud dengan kekuasaan atau bukti ialah sesuatu yang memaksa seseorang menerima apa yang diperintahkannya. Kuasa yang dimaksud di sini ialah mukjizat. Nabi Musa datang membawa mukjizat yang mestinya itu kuasa untuk menundukkan mereka sehingga patuh.

Allah mengabulkan permohonan Nabi Musa antara lain dengan berkata (Allah berfirman), “Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.” Nabi Musa dan umatnya diperintahkan berangkat tengah malam agar tidak ketahuan, tetapi justru Firaun mengetahui dan mengikuti Nabi Musa sampai di pinggir laut.

Umat Nabi Musa mengatakan kita diikuti Firaun dan tentaranya. Maka pada ayat 24 berbunyi, “Dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan.”

Ketika kaum Yahudi ketakutan tertangkap Firaun, Nabi Musa menenangkan mereka dan berkata bahwa Tuhan bersama dirinya. Allah tahu, kenapa ketika Nabi Musa akan membelah lautan, tetapi tetap diperintahkan untuk melemparkan tongkatnya, ini menjadi salah satu bukti bahwa sebagaimana kita juga harus tetap berusaha walaupun kita tahu dan yakin insya Allah pasti akan Allah bantu kita. Jadi, kita diharuskan berusaha untuk mendapatkan pertolongan Allah. ()

BERITA TERKAIT