28 April 2020, 01:00 WIB

Wasit Nasional Berdagang Buah karena Pemasukan Seret


Rahmatul Fajri | Sepak Bola

PANDEMI korona atau covid-19 telah menghentikan semua aktivitas terkait sepak bola. Kompetisi ditunda, klub merugi tidak ada pemasukan, pemain dipulangkan, dan wasit kehilangan pekerjaan.

Berada di situasi antah berantah bukan berarti harus pasrah pada keadaan. Hal itu yang dilakukan salah satu wasit Liga 2, Marjukih.

Di tengah penundaan kompetisi, Marjukih memilih menjual es buah bersama sang istri.

Marjukih telah siap di lapaknya sejak sore hari di tepi Jalan Tanjung Pura, Pegadungan, Kalideres,

Jakarta Barat. Menunggu para pembeli yang mencari minuman untuk berbuka puasa.

"Kompetisi lagi libur, jadi alih profesi dulu," kata Marjukih, ketika dihubungi, Senin (27/4).

Marjukih mengaku hal ini harus ia lakukan di saat tak ada pemasukan sebagai wasit. Ia mengatakan tak ada pilihan lain, kecuali ikut terjun pada usaha yang semula dijalankan istrinya sejak setahun yang lalu.

Ia mengatakan harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan istri dan dua anaknya di tengah situasi saat ini. Jika biasanya setelah memimpin pertandingan, ia mendapat bayaran dan bisa jadi belanja kebutuhan hidup, maka kini penghasilan itu sirna imbas penundaan kompetisi.

“Saya menjual es buah dan es kelapa, yang penting halal dan yang utama biar ada pemasukan. Sekarang juga tidak ada kegiatan wasit, yang honornya dihitung per pertandingan,” ujarnnya.

Marjukih mengaku masih memiliki sedikit pendapatan saat memimpin Liga 3 musim lalu. Akan tetapi, sudah lebih dari tiga bulan, namun gaji itu tak kunjung ia terima.

"Soal tunggakan honor sudah biasa atau klasik di Liga 3,” ungkap Marjukih.

Selain itu, ia mengatakan honornya saat memimpin laga perdana Liga 2 antara Badak Lampung kontra PSKC Cimahi, Minggu (15/3) juga masih tersendat. Ia mengaku telah menindaklanjuti soal bayaran itu kepada operator kompetisi PT LIB dan Komite Wasit, namun ia justru diminta untuk bersabar.

“Saya sudah tanya saat bertugas di Liga 2 tempo lalu, tapi disuruh tunggu dan sabar. Saya yakin pasti dibayar," kata Marjukih.

Menanggapi keluhan Marjukih, Ketua Komite Wasit Sonhadji mengaku pihaknya sudah berdiskusi dengan petinggi PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) mencari jalan keluar. Namun, Sonhadji mengaku kondisi keuangan yang seret membuat pihaknya tak bisa berbuat banyak.

"Kondisi keuangan pun sampai saat ini sedang sulit. Kami juga prihatin dengan nasib wasit. Kalau sudah ada dana, pasti kami bantu para wasit," tandas Sonhadji.

Kabar baik akhirnya datang di saat kondisi keuangan federasi yang sulit. Induk sepak bola dunia atau FIFA menyerahkan dana bantuan kepada setiap negara anggota sebesar Rp7,7 miliar. Dana ini digunakan untuk operasional federasi serta menyelesaikan urusan dengan pihak ketiga.

Dengan adanya kucuran dana segar ini, PSSI masih memikirkan peruntukannya, meski di depan mata telah ada masalah tunggakan gaji wasit.

Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian dari pihak FIFA. Ia mengatakan PSSI akan komunikasi dengan perwakilan FIFA terkait jumlah dan kapan bantuan dana akan dikucurkan, serta pengggunaan dana tersebut.

"Masih menunggu surat dari FIFA mengenai peruntukan dana ini untuk apa saja," kata Yunus. (OL-8).

BERITA TERKAIT