27 April 2020, 23:24 WIB

Titik Panas di Sumsel Menggeliat, Terpantau 1.113 Hotspot


Dwi Apriani | Nusantara

TITIK panas di Sumatra Selatan sudah mulai bermunculan. Meski masih memasuki musim penghujan, namun sudah ada 1.113 titik panas yang terpantau satelit sejak Januari hingga April ini.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori mengatakan titik panas sebenarnya sudah terpantau sejak Januari. Setidaknya, dalam rentang waktu Januari-pertengahan April ada sekitar 1.113 titik hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah.

‘’OKI paling banyak dengan 266 titik disusul Muara Enim dengan 204 titik dan Musi Banyuasin dengan 192 titik,’’ kata dia, Senin (27/4).

Ansori menuturkan pantauan hotspot saat ini dilakukan melalui 5 satelit. Yakni satelit Aqua, Landsat-8, NOAA, SNPP dan Terra. Sehingga proses pendeteksian hotspot bisa lebih baik lagi.

‘’Masing-masing satelit punya keunggulan tersendiri. Tapi yang jelas, pendeteksiannya bisa lebih baik lagi,’’ ujarnya.

Dijelaskan Ansori, meski banyak terdeteksi titik hotspot, namun kondisi cuaca saat ini tidak memungkinkan api untuk menyebar lebih besar. Sebab, curah hujan yang dimiliki Sumsel masih tinggi. Hal ini juga menyebabkan lahan gambut tergenangi oleh air. Sehingga, tidak sampai menyebar.

‘’Kalau berdasarkan prediksi BMKG, kemarau baru jatuh pada Dasarian ketiga bulan Mei. Jadi sampai sekarang lahan masih tetap basah,’’ ungkapnya.

Ansori menegaskan saat ini pihaknya terus melakukan berbagai upaya pencegahan. Seperti sosialisasi bahaya Karhutlah ke masyarakat.

"Sosialisasi dan penyuluhan ini dilakukan oleh masing-masing institusi. Seperti Dinas Pertanian memberikan penyuluhan bagaimana mengolah lahan dengan cara tanpa dibakar. Lalu dinas lain juga melakukan berbagai upaya dengan caranya tersendiri," terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, Nasrun Umar mengatakan kejadian karhutlah di tahun ini tetap menjadi salah satu perhatian utama Pemprov Sumsel. Anggaran pencegahan dan  penanggulangan Karhutlah ditingkatkan sebesar Rp37 miliar. Jumlah anggaran yang disediakan jauh lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp1,7 miliar.

Anggaran yang disediakan, kata Nasrun nantinya akan diperuntukkan bagi daerah rawan Karhutlah. Adapun rinciannya Kabupaten OKI sebesar Rp 6 miliar, Ogan Ilir sebesar Rp 5 miliar, Muba sebesar Rp5 miliar, Banyuasin sebesar Rp5 miliar dan Kabupaten Muara Enim sebesar Rp5 miliar. Kemudian

Kabupaten Pali sebesar Rp5 miliar, Musirawas sebesar Rp1 miliar, Muratara sebesar Rp1 miliar, OKU sebesar Rp2 miliar dan OKU Timur sebesar Rp2 miliar.

‘’Dana ini merupakan stimulus bagi daerah dalam menangani Karhutla,’’ ujarnya.

Dijelaskan Nasrun, selain menganggarkan dana, pihaknya juga telah bersinergi dengan Bupati/Walikota yang ada di Sumsel untuk melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan. Pemprov juga telah membentuk tim terpadu yang diperkuat melalui SK Gubernur Sumsel yang terdiri dari 7 kelompok kerja (Pokja).

"Diantaranya, Pokja perencanaan, pokja deteksi dini, pokja bidang pembinaan dan pemberdayaan masyarakat petani, pokja bidang sosialisasi, pokja evaluasi, pokja patroli dan pokja bidang monev," ungkapnya.

Sosialisasi juga dilakukan kepada 180 unit usaha kegiatan mengenai berbagai upaya pencegahan, sanksi dan proses penegakan hukum karhutla. Tak hanya itu, selanjutnya melaunching aplikasi lancang kuning nusantara , yaitu aplikasi untuk monitoring penanganan kebakaran hutan lahan secara webscreming yang dilakukan Polda Sumsel.

"Melalui tim terpadu dengan berpedoman covid-19 mengenai social distancing, tim tetap melaksanakan evaluasi kesiapsiagaan pengendalian karhutla terhadap unit usaha, kegiatan dan membangum komitmen dengan unit-unit usaha diatas sektor perkebunan dan kehutanan serta pencegahan karhutla tahun 2020," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT