28 April 2020, 00:40 WIB

Monita Tahalea Bernyanyi Selayaknya Berdoa


Fathurrozak | Humaniora

SOLOIS Monita Tahalea, 32, belum lama ini merilis album ketiganya, Dari Balik Jendela. Selain bercerita mengenai tema albumnya, ia juga mengungkapkan bahwa dirinya bersyukur diberi anugerah suara untuk bernyanyi. Menurutnya, bernyanyi tidak ubahnya berdoa pada Tuhan. 

Dari Balik Jendela dirilis pada 13 Maret. Tidak lama setelah albumnya rilis, pandemi covid-19 merebak di Tanah Air. Alhasil, banyak jadwal dan rencana promo albumnya yang terpaksa tertunda atau bahkan batal. Monita pun kemudian beralih ke platform media sosial seperti Instagram.

Ia mengatakan siaran langsung itu belum pernah ia lakukan sebelumnya. Namun, setelah melihat beberapa teman musikusnya melakukan hal serupa, ia pun memberanikan diri dan membahas Dari Balik Jendela.

“Sebelum rilis (album), banyak rencana yang dibikin. Ada video klip, tur, tapi seperti yang kita tahu ada wabah, yang semua orang juga mengalaminya, dan kita menghadapi bersama-sama. Ada rencana yang mesti tertunda. Awalnya bingung, baru rilis (album), tapi aku yakin semua itu ada tujuannya dan tepat pada waktunya,” ungkap Monita dalam siaran langsung melalui akun Instagram-nya, Minggu (26/4).

Album yang berjarak lima tahun dari album sebelumnya, Dandelion (2015), ini digarap bersama produser Indra Perkasa. Dengan berisi 10 trek, album ini bertema mengenai waktu. Pengerjaan albumnya juga meng alami jeda karena baik Monita maupun Indra melangsungkan pernikahan mereka masing-masing.

“Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak yang terjadi, banyak yang ditempuh, susah, senang, banyak hal-hal yang berubah. Aku belajar banyak berdamai sama waktu, makanya dinamai Dari Balik Jendela. Ada momen yang terjadi dalam kehidupan dan cara pandang yang berubah,” ungkap musikus jebolan Indonesian Idol ini.

Single pertama dari album ketiganya, Sesaat yang Abadi, yang juga masuk nominasi AMI Awards 2019 kategori artis solo pria/wanita alternatif terbaik, dimaknai Monita sebagai ucapan syukurnya atas anugerah kemampuan bernyanyi. Itu terkandung dalam lirik terakhirnya. 

“Aku bersyukur Tuhan titipkan kepercayaan. Aku dikasih inspirasi dan menyampaikan sesuatu melalui lagu, melalui instrumen pita suara. Waktu setiap nyanyi, aku merasa bersyukur, merasa Tuhan begitu dekat. Bagiku, nyanyian seperti doa. Walau enggak ada yang nonton, somewhere ada satu orang yang denger lagu ini ketika aku nyanyi. Aku tahu lagu ini dititipkan untuk satu orang di luar sana, juga buat curahin ke Tuhan, kayak berdoa.”

Sementara itu, lagu lain, Jauh nan Teduh, menjadi refleksi dirinya dalam situasi pandemi saat ini. Dalam penulisan lagu itu, ia menemukan inspirasi untuk bait lagu saat tengah naik taksi daring. Ketika itu situasi jalanan tengah macet dan ia dilanda perasaan yang kurang baik. Dalam perjalanan itu, Momon sembari merenungi yang tengah dilewatinya. Lagu ini pun dijadikannya untuk mengutarakan konsep yang ia sebut sebagai ‘tersesat di ruang waktu’.

“Aku kerap tersesat di ruang waktu. Aku ada di sini, tetapi mikirin yang sudah lewat. Atau, ada di sini, tapi mikirin rencana jauh ke depan bagaimana. Jadi, bawaannya grumpy, marah, sebel. Itu menurutku defi nisi tersesat di ruang waktu. Enggak pernah mensyukuri,” tuturnya.

Ia menambahkan, “Aku lima tahun kemarin banyak kehilangan momen ‘sekarang atau saat ini’. Dalam situasi pandemi ini yang mengharuskan di rumah saja, mengajarkan hal yang berharga banget. Belajar menikmati apa yang aku punya hari ini, menghargai setiap detik yang kita punya. Truly humbling experience. Momen yang bikin aku jadi kecil di hadapan Tuhan.”


Gara-Gara Banda Neira

Dalam album terbarunya tersebut, penggemar klub sepak bola Liverpool itu menggandeng eks Banda Neira, Ananda Badudu. Banda Neira diakui Momon sebagai salah satu sumber inspirasinya. Ia pun menyesal tidak sempat menyaksikan pertunjukan langsung Ananda dan Rara Sekar saat masih aktif sebagai duo grup musik itu. 

Kemudian, saat ada festival musik di Malang, ia pertama kali berinteraksi dengan Ananda dan meminta izin membawakan Sampai Jadi Debu. “Aku lagi terinspirasi sama album Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti. Dengerin itu terus, lalu di Folk Music Festival minta izin untuk bawain Sampai Jadi Debu. 

Tidak menyangka ketika aku bawain itu, orangorang sudah pada kangen sama Banda Neira. Semuanya ikut nyanyi. Ternyata kekuatan musik sebesar itu. Bisa masuk ke jiwa seseorang,” kenangnya.

Setelah itu Momon lebih aktif berkomunikasi dengan Rara dan Ananda. Pada proyek selanjutnya, ia pertama kali diajak berkolaborasi saat Nanda tampil di Pusat Kebudayaan Prancis di Indonesia, IFI Thamrin. Saat itu ia pun memberanikan diri mengajak Nanda menulis lagu bersama. “(Hasilnya) di album ini ada di lagu Pada Air dan lagu Pada Angin. Sebenarnya itu satu lagu, cuma dipecah jadi dua trek, seperti bagian dari pengantar dari suatu cerita,” ucapnya. (M-2)


 

BERITA TERKAIT