27 April 2020, 20:19 WIB

Selamat Tinggal, HOOQ


Galih Agus Saputra | Weekend

Kabar mengejutkan datang dari penyedia layanan siaran video on demand (VoD) asal Singapura, HOOQ. Layanan siaran itu dikabarkan hendak ditutup 30 April mendatang.

Country Head HOOQ Indonesia, Guntur Siboro, mengatakan bahwa proses likuidasi HOOQ sendiri sudah berlangsung sejak 27 Maret lalu. Hingga saat ini proses likuidasinya masih berjalan, mengikuti hukum yang berlaku di Singapura.

"Proses likuidasi itu kan enggak langsung tutup begitu, urusan vendor, pegawai, semua sedang berjalan. Ada likuidatornya, sekarang ini sedang berproses. Kalau di Amerika, Cahpter 11 istilahnya," tuturnya, saat dihubungi Media Indonesia, Senin (27/4).

Guntur mengatakan bahwa penutupan layanan juga akan berimbas pada konten lokal. Karena layanan ditutup, otomatis konten tersebut kelak tidak dapat diakses lagi menggunakan HOOQ.

Sejak 27 Maret, kata Guntur, HOOQ juga sudah tidak menerima pelanggan baru. Akan tetapi, pelanggan lama masih diberi kesempatan mengakses konten di dalamnya tanpa dipungut biaya.

Guntur mengaku tidak mengetahui alasan pemegang saham menutup layanan HOOQ. "Saya kira itu keputusan pemegang saham. Ada dugaan juga bisa, misalnya, kondisi bisnis. Tapi ya itu kembali lagi ke keputusan pemegang saham," tuturnya.

HOOQ sendiri ialah perusahaan yang berdiri sejak 2015. Penggunanya diperkirakan sudah mencapai kurang lebih 80 juta, dan tersebar di India dan beberapa negara Asia Tenggara. Beberapa perusahaan pemegang sahamnya ialah Singapore Telecommunication Ltd (Singtel), Warner Bros Entertainment, dan Sony Pictures Television.

Kabar gulung tikarnya HOOQ  membuat warga net mempertanyakan nasib konten lokal yang tayang di platform itu, khususnya penggemar serial Brata dan serial Cek Toko Sebelah (CTS). 

"Alasan donlot HOOQ cuma utk CTS series," tulis @anggasulistianto di akun Instagram milik sutradara CTS, @ernestprakasa. 

"nunggu season 3 tapi hooq ditutup," ratap @rastrapramesti di akun @oks_antara milik aktor utama Brata, Oka Antara. 

Tidak sedikit dari mereka yang berharap agar penayangan serial-serial tersebut diambil alih platform sejenis lain, seperti iflix, GoPlay, atau Netflix. (M-2) 

 

BERITA TERKAIT