27 April 2020, 18:04 WIB

Sentimen Negatif Belum Reda, Saham BUMN Terkoreksi


Despian Nurhidayat | Ekonomi

PERGERAKAN saham emiten BUMN secara year to date (YTD) dinilai sudah terkoreksi cukup dalam. Kapitalisasi emiten BUMN tercatat turun sekitar 37,8%, sementara emiten non-BUMN hanya turun 25,4%.

Dalam lima tahun terakhir, saham BUMN bahkan dinilai memiliki kinerja lebih buruk daripada emiten non-BUMN. Ditambah lagi dengan pandemi covid-19 yang menimbulkan ketidakpastian pasar.

Pada dasarnya, koreksi ini tidak hanya dialami emiten BUMN saja. Analis Binaartha Sekuritas, M Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan hampir semua emiten mengalami pergerakan minus pada harga sahamnya secara YTD.

Baca juga: Bos BEI: Covid-19 Tidak Halangi Perusahaan Masuk Pasar Modal

"Saat ini pemerintah lebih fokus memberikan program stimulus terhadap sektor yang paling terdampak covid-19. Mungkin salah satunya berimbas pada emiten BUMN. Komitmen pemerintah masih kuat dalam menanggulangi pandemi," ujar Nafan saat dihubungi, Senin (27/4).

Lebih lanjut, Nafan menilai pergerakan saham sangat erat kaitannya dengan sentimen pasar. Terlebih sentimen terhadap pandemi covid-19. Hal ini yang mendasari penurunan hampir seluruh emiten.

"Sentimen pasar saja yang masih belum mereda, sehingga harga saham bisa menurun," imbuh Nafan.

Baca juga: Saham Wall Street Bertumbangan Imbas Rusaknya Perekonomian AS

Hal senada juga diungkapkan Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee. Menurutnya, saat ini hampir semua emiten mengalami kondisi saham emiten BUMN. Apabila dilihat satu per satu, sebagian BUMN terutama perbankan, sangat terpukul sentimen covid-19. Mengingat, adanya potensi kredit macet dan cash flow yang diprediksi menurun.

"Kalau Garuda itu kasusnya beda. Mereka terpukul karena terdampak sejak Januari. Bahkan ada pegawai yang tidak memiliki pendapatan dari bulan tersebut. Penerbangan yang dibatalkan dari Januari sampai Februari sangat besar sekali. Baik dari domestik maupun internasional," papar Hans.

Kondisi serupa juga terjadi pada Semen Indonesia, kemudian sektor tambang, batu bara, timah, nikel dan komoditas. Hans menilai sejumlah sektor tersebut memiliki tekanan yang sama dan juga mengalami penurunan. Terkecuali Kimia Farma dan Indofarma, yang disebut memiliki kinerja baik di tengah pandemi.(OL-11)

 

 

 

BERITA TERKAIT