27 April 2020, 16:17 WIB

Survei KPAI: Mayoritas Siswa tak Senang Pembelajaran Jarak Jauh


Ihfa Firdausya | Humaniora

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan kajian tentang penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi covid-19. Hasilnya muncul berbagai keluhan para siswa dalam menjalankan PJJ ini.

Antara lain keterbatasan sarana belajar daring, nihilnya interaksi guru-murid, dan tugas yang terlalu banyak.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan kajian dilakukan sehubungan banyaknya aduan mengenai penerapan PJJ kepada KPAI. Hingga Kamis (23/4), KPAI sudah menerima 246 pengaduan.

"Keluhan di pengaduan KPAI terkait pembelajaran jarak jauh muncul dikarenakan keterbatasan kuota, peralatan yang tidak memadai untuk daring, tidak memiliki laptop/komputer PC, dan beratnya berbagai tugas dengan limit waktu yang sempit," ungkap Retno dalam videoconference, Senin (27/4).

Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan hasil survey, yakni mayoritas siswa (95,4%) menggunakan telepon genggam/handphone untuk melaksanakan PJJ. Sementara itu 23,9% siswa juga menggunakan peralatan berupa laptop dan 2,4% siswa menggunakan computer PC.

"Oleh karena itu banyak siswa yang mengaku matanya sakit dan kelelahan karena berjam-jam menatap layar ponsel," kata Retno.

Data survey juga menunjukkan bahwa 53,6% responden menyatakan tidak memiliki fasilitas wifi di rumahnya dan 46,4% lainnya memiliki fasilitas tersebut.

"Jika ada wifi, maka PJJ dapat berlangsung secara teleconference, kalau tidak maka hanya penugasan demi penugasan yang bisa dilakukan para guru," jelas Retno.

Survei yang berlangsung 13-27 April 2020 ini mencakup 1.700 anak sekolah SD-SMA di 20 provinsi.

Hasil lain menunjukkan sebanyak 79,9% responden menyatakan bahwa PJJ berlangsung tanpa Interaksi Guru-Siswa. Mereka mengaku bahwa dalam hal ini guru hanya memberikan dan menagih tugas.

"Hanya 20,1% responden yang menyatakan ada terjadi interaksi antara siswa dengan guru selama PJJ," jelas Retno.

Hal lain adalah kesulitan yang dihadapi siswa lantaran tugas yang menumpuk karena para guru hanya menyediakan waktu yang sempit.

"Belum selesai tugas pertama, sudah datang tugas selanjutnya dari guru yang lain, demikian seterusnya, padahal tugas yang pertama saja belum selesai," kata Retno.

Dari survei ini, KPAI memperlihatkan bahwa mayoritas siswa tidak senang dengan PJJ, yakni sebanyak 76,7%. Sementara hanya 23,3% siswa menyatakan senang dengan PJJ.

"Adapun alasan yang tidak senang umumnya adalah tugas-tugas yang berat selama PJJ, padahal kalau belajar di sekolah selama ini tidak seberat itu tugasnya. Sedangkan alasan yang senang belajar dari rumah karena tidak perlu bangun terlalu pagi dan tidak perlu pakai seragam sekolah," jelas Retno.

Oleh karena itu, KPAI memberikan beberapa rekomendasi terkait permasalahan PJJ ini.

Pertama adalah perlunya penetapan kurikulum dalam situasi darurat covid-19. KPAI menilai bahwa Kemendikbud dan Kemenag harus segera menetapkan kurikulum dalam situasi darurat, misalnya memilih materi-materi esensial dan utama saja yang diberikan selama masa PJJ.

"Materi yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dan perlu bimbingan guru secara langsung sebaiknya ditiadakan. Materi yang diujikan dalam kenaikan kelas sebaiknya materi yang sudah dibahas sebelum kebijakan belajar dari rumah. Dengan demikian tidak membebani siswa maupun guru," ujar Retno.

Selanjutnya adalah mempertimbangkan kondisi anak dan keluarganya dalam PJJ serta penilaiannya dalam menerapkan ujian daring. KPAI menilai prinsip belajar jarak jauh wajib mempertimbangkan kondisi siswa yang berbeda-beda dan tidak bisa disamakan perlakuannya

"Karena ada anak yang orang tua tidak masalah dalam penyediaan kuota internet, namun ada anak-anak yang orang tuanya tidak sanggup membeli kuota internet," jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, dalam melaksanakan PJJ para guru sebaiknya tidak terfokus pada pembelajaran dan penilaian koginitif saja. Namun, mereka juga harus menyeimbangkannya dengan aspek afektif yang berbasis pada pendidikan karakter.

"Penugasan afektif seharusnya dapat dilakukan, misalnya tugas membantu orangtua di rumah selama belajar dari rumah dan menuliskan laporan singkat untuk menceritakan perbuatan baik apa yang dilakukannya hari itu di rumah," kata Retno.

"Ini akan mendekatkan hubungan anak dengan keluarga, sekaligus memberikan energy positif di rumah karena saling membantu. Penilaian afektif dapat dilakukan bisa dalam bentuk portofolio," imbuhnya.

KPAI juga berharap Kemdikbud dan Kemenag mendorong para guru untuk menggunakan Flatform Rumah Belajar dan Program Belajar dari Rumah yang disiarkan di Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI). Dalam hal ini, para guru juga dapat menugaskan orang tua ikut menyaksikan agar dapat membantu anak memahami tayangan tersebut, terutama anak-anak yang masih usia TK dan SD.

"Para orangtua ternyata sepakat kalau konten semacam itu perlu diperkaya dan dikemas lebih atraktif dengan durasi lebih panjang serta kualitas siaran yang bagus," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT