21 April 2020, 15:05 WIB

Menilik Lagi Lima Kisah Unik tentang Kartini


Bagus Pradana | Weekend

BICARA Kartini selalu lekat dengan kisah pembela hak perempuan. Di masa perempuan masih dianggap manusia kelas dua saat itu, yakni di akhir abad 19 hingga awal abad 20, perempuan yang lahir pada 21 April 1879 ini telah menanampak ide kesetaraan gender. Tidak heran namanya terus dikenang hingga sekarang meski telah banyak sosok-sosok perempuan pendobrak lainnya lahir.

Di samping gemar membaca, menulis, dan peduli pendidikan, masih banyak lagi sisi Kartini yang menarik. Berikut beberapa penggalan kehidupan Kartini yang menarik disimak:

1. Dipanggil Trinil 

Siapa sangka, Kartini kecil ternyata merupakan anak yang aktif dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Hal ini kemudian membuatnya mendapat paraban (julukan) 'Trinil' dari sang ayah, RM Sosroningrat. Trinil merupakan nama burung kicau yang badannya kecil namun gerakannya lincah. Ia bahkan membagikan kisah mengenai panggilan kecilnya ini kepada Estelle Zeehandelaar, sahabat penanya dari Belanda yang ia kenal melalui surat-surat yang ditulisnya di 'De Hollandsche Lelie' pada tangga 18 Agustus 1899.

Selain dipanggil Trinil, Kartini juga sering dipanggil 'Jaran Kore' (Kuda Liar) oleh para saudaranya yang lain karena pembawaannya yang tak bisa diam, seperti Perempuan Jawa pada umumnya.   

"Saya disebut Kuda Kore atau Kuda Liar karena saya jarang berjalan, tetapi selalu melompat atau melonjak-lonjak. Dan karena sesuatu dan lain hal lagi saya dimaki-maki juga sebab saya sering kali tertawa terbahak-bahak dan memperlihatkan banyak gigi yang dinilai perbuatan tidak sopan," tulis Kartini, seperti dikutip dari Marihandono, Sisi Lain Kartini (2016).

2. Surat Kabar Feminis

Meskipun Kartini lahir di sebuah desa kecil (Mayong) di Kabupaten Jepara, namun hal tersebut tak lantas menjadi penghalang baginya untuk mengenal dunia. Ia senang mempelajari banyak hal baru, ini tergambar dari ketertarikannya terhadap dunia tulis menulis di usianya yang masih belia. Ia belajar menulis dari seorang Belanda yang bernama Marie Ovink-Soer, istri seorang pegawai administratur Belanda yang berkediaman tak jauh dari rumah Kartini. 

Dari pergumulannya dengan Marie Ovink-Soer, Kartini pun tidak lagi awam dengan berbagai surat kabar berbahasa Belanda yang menjadi bacaan rutin Nyonya Ovink-Soer. Hingga akhirnya ia pun mulai berkenalan satu surat kabar berhaluan feminis yang kelak membuatnya dikenang, 'De Hollandsche Lelie'. Melalui surat kabar itu, Kartini pun terhubung dengan sejumlah sahabat pena yang menjadi tempatnya mencurahkan isi hati, antara lain Estelle Zeehandelaar dan Rosa Manuela Abendanon.


3. Dua Adik Perempuan yang Tak Kalah Berjasa 

Sama seperti sang kakak, kedua adik Kartini yakni Kardinah dan Roekmini juga mewarisi memiliki sifat pemberontak. Selepas sang kakak mangkat, Kardinah memutuskan untuk melanjutkan mimpi-mimpi sang kakak dengan mendirikan sebuah sekolah kepandaian putri yang ia beri nama, Wismo Pranowo pada tanggal 1 Maret 1916.    

"Saya merasa ini sebagai tugas saya, tugas suci saya kepada saudara kami, yang dengannya kami pernah memimpikan mimpi itu, yang dengannya kami membangun cita-cita itu dan menawarkan diri saya sekarang untuk tujuan yang kami selalu tuju, demi kebaikan kita semua," tulis Kardiah dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, dalam Frits GP Jaquet, Surat-Surat Adik Kartini, 2014.

Roekmini, yang merupakan adik tiri dari Kartini memilih jalur organisasi untuk memanifestasikan semangat perjuangan yang diwariskan oleh kakak-kakaknya. Ia sempat bergabung dalam sebuah organisasi yang memperjuangkan hak politik (hak pilih) bagi perempuan di Eropa, Vereeninging voor Vrouwenkiesrecht (VVV) pada 1927 hingga 1931.

Roekmini juga sempat terlibat dalam Kongres Perempuan Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1928, dan terpilih sebagai delegasi untuk mewakili Indonesia di Kongres Perempuan Se-Asia di Lahore, Pakistan pada tahun 1931.       

4.  Memiliki Seorang Anak

Sebelum meninggal pada 17 September 1904, Kartini melahirkan seorang anak yang diberi nama Soesialit Djojoadiningrat. Nama Soesalit merupakan akronim kalimat "susah naliko alit” (susah di waktu kecil) karena ia tidak pernah mengenal ibunya saat kecil. 

Soesialit memiliki saudara tiri Abdulkarnen Djojoadiningrat, tokoh Perhimpunan Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Muda Urusan Sosial pada Kabinet Sjahrir III. Selepas lulus dari Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren, Soesialit bergabung dengan institusi militer PETA (Pembela Tanah Air) di masa pendudukan Jepang. 
Karier militer Soesialit bisa dibilang cukup berhasil hingga mencapai pangkat Mayor Jenderal, namun setelah Kemerdekaan pangkatnya harus diturunkan menjadi Kolonel sesuai dengan kebijakan Re-Ra (Reorganisasi - Rasionalisasi) yang diterapkan di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 1948.


5. Mimpi Diteruskan oleh Adik

Kartini memiliki sebuah mimpi yang belum terwujud hingga akhir hayatnya, mimpi itu adalah mendirikan sebuah sekolah khusus untuk kaum perempuan. Bersama kedua adiknya (Kardinah dan Roekmini) ia telah merancang sebuah konsep sekolah kejuruan yang khusus diperuntukan sebagai wadah belajar bagi kaum perempuan Jawa. Dalam berbagai kesempatan Kartini selalu mengutarakan niatannya terkait sekolah ini kepada para sahabat penanya. Namun sayang ia mangkat sebelum impiannya itu terwujud pada 1904, setelah melahirkan anak semata wayangnya.

Kematian Kartini membuat Rosa Manuela terpukul, ia kemudian berinisiatif untuk mengumpulkan surat-surat Kartini dalam sebuah buku yang berjudul 'Door Duisternist Tot Licht' yang terbit pada April 1911. Sitisoemandari dalam bukunya 'Kartini Sebuah Biografi' (1979) menyebutkan bahwa buku yang berisi kumpulan surat Kartini yang diterbitkan oleh para sahabat penanya itu laris keras di Belanda, bahkan buku tersebut memantik wacana pendidikan bagi kaum perempuan di Hindia Belanda. 

Hingga puncaknya yaitu pada 1 Februari 1912, Yayasan Kartini pun secara resmi dibentuk, untuk mewujudkan cita-cita Kartini mendidik perempuan-perempuan di tanah kelahirannya. Beberapa sekolah kejuruan yang dikhususkan untuk kaum perempuan pun akhirnya mulai didirikan di beberapa kota Jawa dengan nama 'Sekolah Kartini'. (M-1)
 

BERITA TERKAIT