16 April 2020, 23:01 WIB

Rokok Bisa Cegah Virus Korona, Pakar UGM: Tidak Benar


Ardi Teristi | Humaniora

GURU Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM Prof Yayi Suryo Prabandari menyatakan klaim merokok bisa mencegah virus korona atau covid-19 adalah tidak benar. Pasalnya, perokok malah dapat menyebabkan seseorang mudah sakit.

Perokok tidak hanya rentan terinfeksi covid-19, tetapi juga penyakit lain seperti kanker, jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes. "Klaim yang beredar sangatlah keliru karena kebiasaan merokok itu tidak sehat. Justru merokok menjadikan seseorang menjadi lebih rentan terhadap serangan virus, bakteri, dan penyakit lainnya," papar dia lewat siaran pers dari Humas UGM, Rabu (15/4).

Dia mengatakan, para perokok memiliki risiko yang lebih besar daripada orang yang tidak merokok untuk tertular virus korona. Selain kelompok usia lanjut dan orang-orang dengan penyakit bawaan, para perokok  menjadi salah satu kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi covid-19.

Baca juga: Wapres Sayangkan Masih Ada Penolakan Jenazah Pasien Covid-19

Apabila terinfeksi covid-19, kondisi tubuh perokok akan lebih berat. Alasannya, perokok sudah mempunyai masalah di paru-paru akibat zat-zat kimia yang terisap saat merokok. Akibatnya, saluran nafas perokok berkurang fungsinya.

"Dalam sebuah penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal internasional menyebutkan, pasien covid-19 yang merokok 2 kali lebih berisiko untuk membutuhkan perawatan intensif di ICU, membutuhkan alat bantuan penafasan, mengalami kematian karena covid-19," jelas dia.

Dalam Journal of Clinical Medicine (2020) berjudul Smoking Upregulates Angiotensin-Converting Enzyme-2 Receptor:A Potential Adhesion Site for Novel koronavirus SARS-CoV-2 (covid-19), lanjut Yayi, di Tiongkok, perokok pria yang cukup tinggi jumlahnya sekitar 50%. Angka kematian yang dilaporkan banyak terjadi pada pria usia tua. Oleh sebab itu, kemungkinan perokok terwakili dalam kematian cukup tinggi.

Di Iran, Tiongkok, Italia dan Korea Selatan, jumlah perokok perempuan jauh lebih sedikit dibandingkan pria. Fakta juga menunjukkan, lebih sedikit perempuan yang tertular virus korona.

Jika analisis ini benar, Indonesia diprediksi akan terjadi peningkatan pasien covid-19 karena persentase perokok pria di atas 60%.

Pakar promosi kesehatan ini menuturkan, para perokok rentan terinfeksi virus karena aktivitas merokok melibatkan kontak jari tangan dengan bibir secara intens. Aktivitas tersebut membuka peluang bagi virus untuk berpindah dari tangan ke mulut.

Merokok menyebabkan produksi lendir berlebih dan menurunkan proses pembersihannya pada saluran nafas. Merokok juga memicu timbulnya peradangan sehingga lebih rentan terhadap infeksi virus.

Risiko merokok tembakau dengan merokok elektrik/vape sama besarnya. Rokok ataupun vape tersebut digunakan secara bersama-sama. Kontak dari mulut ke mulut ini meningkatkan kemungkinan penularan virus, termasuk covid-19.

Yayi pun meminta, masyarakat, khususnya perokok, segera berhenti merokok sesuai dengan imbuan yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) maupun Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

"Berhenti merokok secepatnya. Bisa dimulai dengan mulai mengurangi rokok, atau kalau terpaksa merokok dilakukan di luar rumah, dan jangan gantian menggunakan alat rokok," pungkas dia. (X-15)

BERITA TERKAIT