15 April 2020, 06:25 WIB

PDB Nasional Bisa Terkoreksi Sampai 0%


Pra/Des/X-11 | Ekonomi

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan angka dasar pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional tahun ini akan sangat terkoreksi karena pandemi covid-19. Dari semula ditetapkan pemerintah sebesar 5,3%, maka pertumbuhan diperkirakan bisa melemah sampai 2,3%. Bahkan, jika situasi tidak membaik dalam waktu dekat, pertumbuhan bisa turun sampai 0%.

Menkeu menyebut ada dua skenario yang bisa terjadi, yakni covid-19 mulai mereda atau masih terus berlanjut di kuartal ketiga. “Jika sudah selesai, kuartal ketiga mungkin akan ada recovery di 1,5% sampai 2,8%. Namun, kalau kondisi berat berlanjut, kemungkinan akan terjadi resesi. Dua kuartal berturut-turut PDB kita negatif. Ini sedang kita upayakan untuk tidak terjadi,” kata Menkeu seusai Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, kemarin.

Sri Mulyani juga menyinggung angka kemiskinan yang bisa meningkat sampai 1,1 juta orang akibat melemahnya pertumbuhan PDB. Bahkan, jika pandemi berlangsung hingga kuartal ketiga, penduduk miskin akan bertambah hingga 3,78 juta orang.

Untuk menghindari kemungkinan terburuk itu, pemerintah fokus menggunakan instrumen APBN untuk tiga hal, yaitu pemenuhan gizi dan kesehatan, jaring pengaman sosial, dan dukungan kepada dunia usaha terutama sektor informal dan UMKM.

Di sisi lain, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2021, yakni di kisaran 4,5% sampai 5,5%. Menurut Menkeu, penetapan angka itu sejalan dengan optimisme pemulihan ekonomi nasional yang akan mulai terjadi pada pengujung 2020.

Pertahankan suku bunga

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo kemarin menyatakan BI akan tetap mempertahankan BI 7-day reverse repo rate sebesar 4,50%, suku bunga deposit facility sebesar 3,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 5,25%.

“Meskipun BI tetap melihat adanya ruang penurunan suku bunga dengan rendahnya tekanan inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan
ekonomi, kami memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga,” ungkap Perry.

Perry juga mengatakan bahwa risiko resesi ekonomi dunia akan terjadi pada Triwulan-II dan Triwulan-III 2020 sesuai dengan pola pandemi covid-19. Namun, pada Triwulan-IV 2020 diperkirakan kondisi ekonomi dunia akan kembali membaik. (Pra/Des/X-11)

BERITA TERKAIT