14 April 2020, 11:07 WIB

Auschwitz Online: Propaganda Mengenai Holocaust di Era Digital


Adiyanto | Weekend

SETIAP hari, Pawel Sawicki, kepala media sosial di Museum Auschwitz, Polandia memposting beberapa foto korban di bekas kamp Nazi, Jerman di akun twitter.  Aktivitasnya itu merupakan bagian dari edukasi mengenai kengerian pembunuhan massal terhadap etnis Yahudi di Eropa yang dilakukan Nazi.

Sebuah posting baru-baru ini ke akun tersebut, yang memiliki sejuta pengikut, menampilkan foto seorang bayi perempuan dengan gaun wol rajutan, yang dihiasi dengan kerah putih besar.

"8 April 1940 | Gadis Yahudi Prancis Jacqueline Benguigui lahir di #Paris. Dia tiba di #Auschwitz pada 25 Juni 1943 bersama 1.018 orang Yahudi yang dideportasi dari Drancy. Dia termasuk di antara 418 orang yang terbunuh di kamar gas," demikian keterangan foto tersebut.

"Kami menunjukkan kepada orang-orang pada hari ulang tahun mereka (para korban) dan memberikan informasi biografinya," kata Sawicki kepada AFP, Selasa (14/4).

"Penting bagi kita untuk menunjukkan nasib individu karena kadang-kadang sulit untuk memahami skala kejahatan."

Tahun ini, menandai 75 tahun sejak pembebasan Auschwitz-Birkenau, dua kamp konsentrasi maut milik Nazi, Jerman yang terletak dalam satu komplek. Di kamp ini, lebih dari 1,1 juta orang, kebanyakan Yahudi Eropa, terbunuh.

Kamp ini dibuat oleh Jerman di selatan Kota Oswiecim, setelah Jerman menginvasi Polandia pada 1940. Kamp itu dibubarkan setelah pasukan Tentara Merah, Rusia menghancurkan sisa-sisa tentara Nazi di wilyah itu pada Januari 1945. 

Melalui media sosial, museum holocaust kini berharap dapat memberi edukasi bagi masyarakat yang lebih luas tentang kengerian genosida. Apalagi semakin sedikit yang selamat yang bisa memberikan kesaksian.

"Orang-orang sangat tersentuh oleh foto-foto para korban, seringkali mereka mengirimi kami foto-foto orang yang mereka cintai yang meninggal di kamp dan meminta kami untuk menerbitkannya. Itu yang kami lakukan," kata Sawicki.

Museum Holocaust menganggap kehadiran mereka  yang lebih luas di media sosial sebagai perpanjangan penting dari misi peringatan dan pendidikan mengenai sejarah yang kelam.

Sementara museum di situs bekas kamp kematian menarik lebih dari dua juta pengunjung setiap tahun, ribuan juga mengunjungi situs Twitter, Facebook, dan Instagram setiap hari.

Sejak membuka akun di Facebook, museum ini  telah memiliki 328.000 pengikut. Mereka juga bergabung dengan Twitter dan Instagram pada 2012.

Pada Januari lalu mereka memiliki satu juta follower di Twitter. Hal ini, antara lain pengaruh berkat aktor Mark Hamill, yang terkenal karena perannya sebagai Luke Skywalker di Star Wars, sebagai salah satu pengikut dan pendukung museum tersebut.

Untuk menjangkau sebanyak mungkin orang, museum itu menggunakan Facebook untuk menyiarkan langsung acara-acara khusus. “Termasuk upacara yang menandai pembebasan kamp dan kunjungan-kunjungan penting,” kata Sawicki. (M-4)

BERITA TERKAIT