11 April 2020, 10:00 WIB

Wabah dan Wajah Kota yang Berubah


Adiyanto | Weekend

SEPI, sunyi. Begitulah pemandangan yang terlihat di Piazza Navona yang bersejarah di Roma, Italia hingga Tahrir Square yang menjadi simbol Kota Baghdad di Irak.

Berbekal sejumlah kamera di 16 kota di seluruh dunia, jurnalis AFP TV coba merekam kekosongan itu, termasuk yang menyelimuti hati warga kota dengan mewawancarai mereka. Beberapa warga yang ditemui tampak sentimentil, khawatir, dan juga terkejut.

Pandemi korona yang menyebar di sejumlah negara telah mengubah peradaban kota berikut manusianya. Biasanya Piazza Navona ramai dengan turis, artis dan musisi, sementara pantai Arpoador di Rio de Janeiro, Brasil adalah magnet dan surga bagi peselancar.

Kerumunan warga dari berbagai bangsa biasanya juga berkumpul siang dan malam di Gerbang Brandenburg yang ikonis di Berlin, Jerman, sementara di megacity Nigeria, Lagos, kehidupan di lingkungan Ikoyi biasanya selalu sibuk bak di Hollywood Boulevard, Los Angeles.

Tetapi, sejak pandemi covid-19 meluas dan diberlakukannya keharusan untuk berdiam di rumah dan menjaga jarak untuk membendung penyebaran virus, kehidupan di kota-kota seperti Tokyo, Yerusalem, Panama City, New York, Johannesburg atau bahkan Air Terjun Niagara di Kanada, sangat berbeda.

Bagi sebagian orang, kekosongan telah meninggalkan rasa kehilangan. Seperti dirasakan pemandu wisata Italia Marta Rezzano. Kepada AFP ia mengaku merindukan denyut kota seperti dulu.

"Saya rindu tidak lagi bisa menunjukkannya, membicarakannya, berjalan naik turun jalan, menelusuri kotak-kotaknya."Benar-benar menyedihkan, ya," ujarnya, Rabu (8/4) waktu setempat.

Lainnya bahkan seperti tidak lagi mengenali wajah kotanya sendiri. "Hal ini banyak mengubah wajah Arpoador," kata pengusaha Brasil, Diego Reis de Aguiar, yang juga seorang peselancar.

Etienne Klein, seorang ilmuwan dari Komisi Energi Alternatif Prancis dan Komisi Energi Atom (CEA), mengatakan, perasaan kosong memiliki "efek metamorfosis".

"Tempat-tempat ini terllihat seperti diri mereka (warga),  tidak lagi sepenuhnya dapat dikenali. Keberadaan manusia adalah bagian dari kota  dan ketika mereka (kota) dikosongkan, itu memberi kesan mereka seperti direduksi. Itu sifat sejati manusia, termasuk kita."

Masa depan suram

Bagi sebagian orang, kondisi pandemi ini adalah pertanyaan tentang kelangsungan hidup. Di Lagos, pedagang kaki lima ,Solomon Ekelo, nekat berkeliaran di jalanan karena ia terpaksa harus mencari makan.

"Tidak mudah bagi orang-orang seperti kami yang ada di jalanan. Kami tidak punya rumah.  Tidak ada tempat untuk bekerja. Bahkan tidak ada tempat untuk tidur, jadi itu sangat sulit," kata pria berusia 27 tahun tersebut.

Hidup terisolasi memang tidak mudah, seperti yang dialami warga pensiunan di Tiongkok, Wang Huixian. Meskipun pria 57 tahun yang tinggal di dekat Beijing itu dapat kembali menari di alun-alun dengan teman-temannya, dia tetap meski menjaga jarak sejauh tiga meter. Selain itu, dia juga belum bisa melihat cucunya. "Karena mereka tinggal cukup jauh ,” katanya kepada AFP.

Kekhawatiran tentang masa depan dirasakan seorang ahli osteopati Jerman, Bettina Kohls. Perempuan berusia 41 tahun ini  bercerita, sekarang hampir tidak ada pasien di tempat praktiknya.

Seorang bartender di Jepang, Shoma Nakada,  yang ditemui AFP di distrik perbelanjaan dan hiburan Shinjuku yang terkenal di Tokyo, juga mengaku khawatir tentang masa depannya.

"Olimpiade ditunda. Ironisnya wabah Ini terjadi ketika kami berpikir ekonomi Jepang akan benar-benar lepas landas, jadi ini membuat saya sangat khawatir," katanya.

Tetapi, bagi sebagian orang, kekosongan juga bisa menjadi kesempatan untuk menemukan sisi lain kota.

"Salah satu hal yang telah berubah di sini, yang belum pernah saya lihat sampai hari ini adalah rumput di antara batu-batu bulat di alun-alun," kata Rezzano, di Piazza Navona.

"Sulit dipercaya, seolah-olah alam menguasai monumen-monumen itu," imbuhnya.

Di tengah kesunyian karena harus mengurung diri di rumah ternyata membawa manfaat bagi sebagian orang.  Seperti diakui Moon Byeong-Seol. Warga Korea Selatan, berusia 28 tahun yang tinggal di Kota Bucheon, sebelah barat Seoul,  ini merasa punya banyak waktu menekuni hobinya

"Tinggal di rumah bermanfaat karena keterampilan memasak saya telah meningkat pesat dan saya punya banyak waktu untuk memikirkan diri saya dan masa depan saya," kata siswa sekolah drama itu kepada AFP di Gwanghwamun Plaza.

Namun, bagi Fabrice Kebour, 56, kondisi di tengah pandemi ini tidaklah aman. "Rasanya seperti berada di atas rakit di tengah badai," kata perempuan yang berprofesi sebagai seniman ini, ketika ditemui tengah berjalan di distrik Montmartre, Paris.

Lain halnya bagi Muawiya Agha, seorang pekerja rumah sakit  di Provinsi Idlib, Suriah. Dia membandingkan masa isolasi di tengah wabah korona dengan kehidupan di negaranya yang dilanda perang.

"Terkurung seperti yang dialami warga negara lain saat ini, itulah yang pernah kami alami. Kami menjalaninya ketika pasukan pemerintah membombardir wilayah kami. Kami mesti bersembunyi di ruang bawah tanah. Kami tinggal di rumah-rumah yang pemiliknya terbunuh, tanpa bisa melihat teman-teman dan keluarga kami, selama berhari-hari dan berminggu-minggu." (M-4)

BERITA TERKAIT