10 April 2020, 20:50 WIB

Betulkah Kondisi Perbankan Masih dalam Keadaan Baik


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

EKONOM senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menuturkan, kondisi perbankan nasional secara menyeluruh berada dalam kategori yang baik.

"Kalau kita lihat kondisinya sampai Maret so far masih bagus artinya covid-19 ini baru ramai di Indonesia pada 20 Maret ke atas tetapi itu belum terlihat dan kemarin bank mengangkat kinerjanya masih bagus," tuturnya dalam video conference, Jumat (10/4).

Akan tetapi, karena pandemi pula kinerja perbankan kemungkinan akan sedikit megalami penurunan hingga setahun ke depan. Itu dikarenakan permintaan dari sektor riil yang cenderung menurun.

Apalagi telah ada pernyataan dari asosiasi pengusaha yang hanya mampu bertahan hingga tiga bulan ke depan. Itu juga terlihat dari banyaknya debitur yang meminta restrukturisasi kepada perbankan karena mengalami permasalahan pada pendapatannya.

Bank, dalam hal ini, kata Aviliani, bisa memilah mana debitur yang layak untuk diberikan restrukturisasi atau pun tidak.

"Jadi tidak akan otomatis. Karena belum tentu semua orang punya pinjaman boleh melakukan restrukturisasi karena tetap ada syarat yaitu kena dampak covid-19. Kalau tidak kena dampak atau tidak kejujuran itu nanti akan kena pidana karena ternyata berdasarkan kebohongan itu direstrukturisasi," tuturnya.

Oleh karenanya pelaku usaha mesti pro aktif melaporkan kondisinya pada perbankan terkait kondisi usahanya. Itu sebagai bentuk pencegahan terjadinya moral hazard dari relaksasi yang diberikan pemerintah.

Bila pun pelaku usaha tidak bisa menikmati fasilitas yanh diberikan pemerintah. Mereka bisa mengajukan penyehatan kembali dengan syarat yang telag ditetapkan oleh pemerintah.

"Kali ini pemerintah beda, tidak hanya fokus sektor bank atau keuangan tapi juga pada masa recovery. Jadi menurut saya sektor riil harus terus bisa survive karena nanti pemerintah akan membantu," pungkas Aviliani.

Meurujuk data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), kondisi perbankan nasional secara umun masih dalam kondisi stabil. Itu ditunjukkan dengan beberapa indikator per Februari 2020 antara lain tingkat pemodalan mencapai 22,27%; kondisi likuiditas relatif cukup dengan Loan Deposit to Ratio (LDR) mencapai 91,76%, beberapa bank bahkan memliki LDR lebih rendah terutama BUKU I dan II yang berada di level 88-89%.

Sementara risiko kredit (NPL gross) terpantau stabil di level 2,79% dengan Return on Assets (ROA) 2,46%. Simpanan juga masih menunjukkan pertumbuhan positif bila dilihat secara tahunan yakni sebesar 7,77%.

"Bahkan data harian di akhir Maret 2020 memperlihatkan peningkatan pertumbuhan menjadi 9,79% secara year on year. Demikian pula untuk tren rata-rata suku bunga simpanan industri perbankan yang masih mencatat tren penurunan sebesar 28 bps sepanjang kuartal I tahun 2020 menjadi 5,50%," tutur Sekretaris LPS Muhamad Yusron. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT