10 April 2020, 19:11 WIB

Harga Ayam Jatuh, Peternak Kecil Mengeluh


Antara | Ekonomi

SUDAH jatuh tertimpa tangga pula. Pribahasa itu sepertinya cocok untuk menggambarkan nasib para peternak ayam  saat ini.

Betapa tidak? Ketika situasi ekonomi sedang tidak menentu akibat wabah virus korona, usaha mereka pun ikut terpuruk lantaran harganya yang terus turun.

Diungkapkan salah seorang peternak, Parjuni, sejak tahun lalu, sebenarnya harga ayam kerap di bawah harga produksi. Harga ayam di tingkat peternak bisa dibawah Rp10.000 perkilogram, sementara ongkos produksi bisa mencapai sekitar Rp18.000.

Baca juga: Harga Anjlok, Peternak Ayam Pilih Kosongkan Kandang

Meski begitu, kata dia, kondisi pasar masih bisa menyerap karena ada permintaan masyarakat. Begitu terjadi wabah covid-19, permintaan turun drastis akibat adanya pembatasan sosial. Rumah makan, restoran, warung, banyak yang tutup, otomatis permintaan juga anjlok.

"Kondisi peternakan  ibaratnya sudah seperti mayat hidup, sejak tahun 2019 lalu kami terus merugi. Adanya wabah corona ini sebagai menambah sakit saja dan menderita," ujar Parjuni.

Ia menuturkan, sebelum terjadi wabah, peternak masih sempat menjual Rp12.000-Rp13.000. Begitu terjadi wabah, harga terjun bebas menjadi Rp8.000 bahkan Rp 4.000 perkilogram. Sementara ongkos produksi tidak pernah turun, tetap Rp17.500 - Rp18.000.

Bagi konsumen, hal ini mungkin susah dipahami karena harga di pasar masih stabil di angka Rp30.000-35.000 per kilogram.

Merosotnya harga ayam ini, kata dia,  terjadi akibat kelebihan pasokan sejak setahun lalu. Pada kondisi sekarang, permintaan ayam menurun hingga lebih  50% akibat pembatasan aktivitas masyarakat untuk mengurangi penyebaran covid-19.

Parjuni mengatakan, sejak tahun lalu, komposisi suplai selalu berlebih setiap bulan,  rata-rata suplai mencapai 300 juta kg per bulan, padahal kebutuhan pasar hanya 245-255 juta kg  per bulan atau rata-rata  250 juta kg per bulan. 

Ada kelebihan 50 juta per bulan atau per minggu 12.500-15juta. Sudah melebihi kebutuhan  masyarakat. Ia pesimis, kalaupun lebaran ada peningkatan, tetap saja belum memberikan keuntungan buat peternak rakyat.

"Ada kenaikan 20-25%  terutama di Jawa atau maksimal 30% itu sudah bagus tapi tetap masih kelebihan suplai. Saat lebaran kenaikan ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, karena kalau di Jawa Barat dan DKI justru berkurang karena orangnya mudik. Tapi kalau ada pelarangan mudik, artinya  demand saat lebaran tidak  ada tambahan, nilai konsumsinya tidak akan melonjak," kata peternak yang sudah berusaha sejak 2003 ini.

Menurutnya peternak sudah meminta agar pemerintah membuat kebijakan untuk menyikapi adanya  over supply ini.  Namun kebijakannya hanya reaktif saja.  Ketika peternak demo atau melakukan pembagian dan pembakaran ayam-ayam barulah  pemerintah turun tangan mengurangi suplai. Kebijakan itu padahal terbukti, harga di tingkat peternak kemudian membaik.

Kadma, salah satu peternak lain dari Bogor mengakui  kondisi saat ini merupakan yang terburuk sejak 2004 pada saat terjadi pandemi  flu burung dan juga resesi 1998.

Ketua Umum Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan, pemerintah harus melakuan gebrakan serius untuk menyelamatkan peternak ayam.  Ia juga berpendapat momen puasa dan Lebaran belum bisa mendongkrak kelesuan sektor peternakan ayam.

“Untuk pulih masih 2-3 bulan lagi.  Dalam  3 minggu ke depan  kondisinya masih berat. Dengan kondisi seperti ini pengusaha UMKM bakal gulung tikar, yang bertahan hanya pengusaha besar. Sementara peternak ayam di Indonesia hampir 80%n levelnya UMKM,” katanya.

Sebelum para peternak berguguran, lanjut dia, perlu tindakan dari hulu dan hilir dari pemerintah.  Pemerintan harus  memfasilitasi dengan membeli ayam dari peternakan rakyat serta program bantuan langung dalam bentuk ayam. Tidak hanya beras dan uang tunai. Terutama juga memangkas over supply sejak dari DOC.

Mencermati kondisi saat ini Yeka Hendra Fatika dari Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi  mengatakan, produk  unggas baik itu  karkas harus diserap jadi cadangan pangan nasional.

"Saran saya  Menteri perekonomian merespon cepat untuk menarik 20 ribu ton ayam atau karkas agar RPA (Rumah Pemotongan Ayam) dan cold storage yang sekarang penuh ini jadi kosong dan  dialihkan ke pemerintah karena kosong produk dari peternak mitra bisa masuk lagi ke RPA nah ini langkah merespon cepat," katanya. (Ant/A-1)

BERITA TERKAIT