10 April 2020, 17:55 WIB

DBS Prediksi PDB Indonesia hanya Tumbuh 2,5%


Fetry Wuryasti | Ekonomi

DBS Bank Group mempublikasi laporan ekonomi untuk 14 negara di seluruh dunia (G3 dan Asia 11). Secara khusus, mereka memperkirakan produk domestik bruto  (PDB) riil AS menyusut sebesar 5% dan sebaliknya Tiongkok tumbuh 2% pada 2020.

Karantina wilayah, yang berlangsung di seluruh dunia untuk melawan covid-19, akan menyebabkan resesi terdalam dari yang pernah terjadi dalam sejarah.

Baca juga: Dampak Covid, PDB Asia-Pasifik Bisa Tergerus US$172 Miliar

Prakiraan DBS Bank Group disusun berdasarkan atas kontraksi tajam dalam aktivitas pada catur wulan kedua dan ketiga, bahkan saat Tiongkok kembali bekerja dan infeksi virus mencapai puncaknya di beberapa negara.

"Kami berharap bahwa di sela-sela karantina wilayah, terobosan untuk mengembangkan obat anti-virus serta produksi massal dan distribusi pengujian dan peralatan pelindung, dunia akan mulai pulih pada catur wulan ke empat," kata Taimur Baig, Ph.D Chief Economist negara G3 & Asia, melalui rilis yang diterima, Jumat (10/4).

Namun, mengembalikan produksi yang hilang akan menjadi tantangan besar karena tekanan pada neraca rumah tangga dan perusahaan serta kecemasan/ketidakpastian di kalangan konsumen dan bisnis kemungkinan berlanjut.

Ekonomi Indonesia relatif tidak dirugikan oleh covid-19 pada awal tahun ini, akan tetapi tingkat infeksi mengalami peningkatan dalam dua minggu terakhir.

Selain pembatasan kedatangan dari luar negeri, pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara lokal, namun memilih tidak menetapkan karantina secara nasional.

Hal itu dilakukan dengan memperhitungkan pelaksanaan ibadah puasa sebulan penuh dan Idul Fitri, ketika biasanya banyak pekerja migran dari luar Indonesia kembali ke kampung halaman mereka, serta pergerakan domestik antarprovinsi.

Dalam situasi tersebut, migrasi dapat menimbulkan risiko penyebaran infeksi ke seluruh negeri sehingga para pemimpin daerah memperketat pemeriksaan.

Dalam keadaan sekarang, PSBB amat mungkin akan berdampak luas pada sektor manufaktur dan jasa, termasuk sarana komoditas konsumen akhir, restoran, eceran, pabrik produksi, konstruksi, dan lain-lain karena keputusan menjaga jarak sosial dan kendala logistik.

Mengingat permintaan konsumen akan terpukul, seperti yang telah diperkirakan, kemungkinan penundaan belanja/pengeluaran dan neraca perdagangan lemah diperkirakan membuat PDB 2020 tumbuh 2,5% (diubah dari 4,4% sebelumnya).

Respon moneter dan fiskal tetap kuat. Pelonggaran moneter lebih lanjut mungkin terjadi, tetapi bukan keputusan mudah. Suku bunga rendah dibutuhkan untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Akan tetapi, itu akan menyebabkan penyempitan selisih lebih lanjut dengan imbal hasil surat berharga pemerintah AS, yang dapat menghalangi portofolio investor asing.

Sementara itu, pemerintah Indonesia menaikkan nilai penawaran obligasi dalam mata uang asing menjadi Us $4,3 miliar, sebuah penawaran tertinggi hingga saat ini, untuk mendanai bantuan dalam rangka penanganan virus korona. (Try/A-1)

 

BERITA TERKAIT