10 April 2020, 16:07 WIB

Dampak Korona, Banyak Perusahaan Bertahan 1-3 Bulan Kedepan


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Penyebaran virus korona (covid-19) nyatanya telah turut serta memengaruhi sektor keuangan pada seluruh perusahaan di tanah air. Pasalnya, pemasukan yang diterima perusahaan semakin menipis semenjak covid-19 masuk ke Indonesia dan menyebabkan perekonomian nasional turut terganggu.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam mengatakan, arus kas (cash flow) yang dimiliki oleh para pengusaha yang tergabung di Apindo bahkan memiliki jumlah yang beragam. Menurutnya, besar kecil ketersediaan uang juga bergantung dari jenis bisnis yang dijalani.

"Jadi, (arus kas) ada yang satu bulan sampai dengan tiga bulan kedepan. Lebih dari itu mereka harus cari stand by loan," ungkap Bob, Jumat (10/4)

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menuturkan, para pengusaha saat ini akan melakukan segala upaya agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada para pekerja. Namun, di kondisi sulit seperti saat ini memang sangat sulit karena sebagian besar perusahaan mengalami penurunan pendapatan yang sangat drastis.

"Bahkan dibeberapa sektor ada yamg sudah berbulan-bulan tidak memiliki pendapatan sehingga harus tutup atau mengajukan kepailitan. Jadi, sangat sulit untuk memenuhi permintaan pemerintah tidak melakukan PHK apabila penyebaran wabah masih tinggi dan kondisi ekonomi masih seperti saat ini," ujar Shinta.

Dia mengatakan, saat ini fokus pengusaha untuk mempertahankan kemampuan untuk mempekerjakan karyawan bertumpu pada dua hal besar. Pertama, faktor pengadaan cashflow perusahaan melakui stimulus kredit (relaksasi kredit, penurunan suku bunga kredit dan restrukturisasi kredit).

"Atau upaya lain seperti mempercepat pencairan restitusi pajak untuk mempertahankan kemampuan finansial perusahaan untuk menggaji karyawan sepanjang wabah dan selama kondisi ekonomi belum rebound," pungkasnya.

Kedua, faktor penurunan beban-beban finansial perusahaan yang sifatnya tidak urgent, non-primer, bisa ditunda atau dikoreksi besarannya. Ini bisa dilakukan dengan penurunan tarif listik sesuai dengan penurunan harga minyak dunia, penundaan pembayaran semua bentuk pajak, bea & pungutan-pungutan lain kepada pemerintah nasional & daerah, penundaan kewajiban pembayaran THR, iuran BPJS.

"Agar perusahaan punya cukup dana untuk menggaji karyawan selama mungkin sampai kondisi berangsur normal. Kedua faktor ini sudah dilakukan perusahaan sejauh yang bisa kami lakukan. Beberapa perusahaan sudah berhasil merestrukturisasikan utangnya," tutup Shinta. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT