10 April 2020, 10:16 WIB

Desa di Jawa Tengah Siapkan Tempat Isolasi Bagi Pemudik


Akhmad Safuan | Nusantara

MENCEGAH penyebaran virus korona (covid-19) yang dibawa pemudik dan pendatang, pemerintah desa mengambil langkah antisipatif, yakni menyiapkan ruang isolasi dengan menggunakan balai desa dan gedung olahraga.

Pandemi covid-19 semakin meresahkan masyarakat dengan bertambahnya kasus positif covid-19 setiap hari. Kondisi itu membuat warga di pelosok desa lebih waspada dan berupaya melakukan antisipasi. Mulai dari penyemprotaan disinfektan, pemeriksaan ketat, hingga menyiapkan tempat isolasi.

Data terbaru kasus positif covid-19 di Jawa Tengah mencapai 144 orang. Sekitar 104 pasien covid-19 masih dirawat di sejumlah rumah sakit. Kemudian, terdapat 19.202 orang dalam pemantauan (OPD) dan pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 428 orang.

Baca juga: Positif Covid-19, Pasien di NTT Buat Pengumuman Lewat Youtube

Kewaspadaan tinggi mulai diterapkan warga hingga ke pelosok desa untuk mencegah penyebarann virus korona. Seperti dilakukan Pemerintah Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, dan Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, yang berlokasi di Kabupaten Semarang. Otoritas desa mulai mengunakan sarana khusus untuk mengisolasi pemudik dan pendatang selama 14 hari.

Desa Bejalen memanfaatkan balai desa dan gedung polides untuk mengisolasi warga pendatang dan pemudik. Selain menyediakan tempat tidur dan sarana pendukung lainnya, dua bangunan milik desa itu mampu menampung puluhan orang. Sedangkan Desa Ngrapah, yang berjarak sekitar lima kilometer dari Desa Bejalen, menyiapkan gedung olahraga untuk tempat isolasi warga pendatang dan pemudik. Daya tamping gedung tersebut mencapai ratusan orang.

“Saat ini ada 30 orang warga yang mudik sudah diisolasi di gedung olahraga,” ucap Kepala Desa Ngrapah, Wargiyati.

Baca juga: Stok Kantong Darah di Medan Turun Drastis

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Bejalen, Sugiharto, bahwa saat ini ada tujuh pemudik yang diisolasi di desa tersebut selama 14 hari. Selama menjalani isolasi, kebutuhan warga dipenuhi dan juga dilakukan pemeriksaan kesehatan.  “Jika14 hari sudah dilewati dan aman mereka baru diperbolehkan pulang,” jelas Sugiharto.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengaku sangat mengapresiasi langkah inisiatif yang diambil sejumlah desa. Sebab untuk memutus mata rantai dan mencegah penyebaran covid-19, dibutuhkan langkah tepat dan berani.

“Saya sudah melihat tempat isolasi di dua desa itu. Cukup bagus dan desa tidak perlu membangun gedung baru, cukup memanfaatkan bangunan yang ada,” pungkas Ganjar.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dikatakannya telah mempersiapkan bantuan untuk desa agar dapat mengelola fasilitas isolasi bagi pemudik. Termasuk, memberikan tenaga kesehatan untuk mengontrol warga yang diisolasi.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT