09 April 2020, 14:00 WIB

Melantai di Bursa, Aesler Pertahankan Optimisme di Tengah Pandemi


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

KEBERANIAN mengambil keputusan bisnis di tengah pandemi covid-19 ditunnjukkan perusahaan jasa arsitektur PT. Aesler Grup International dengan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kamis (9/4).

Presiden Direktur Aesler International Gorup Jang Rony Yuwono menyebut, keputusan melepas saham dengan kode RONY itu sekaligus sebagai wujud mempertahankan optimisme pertumbuhan bisnis di tengah pandemi covid-19 yang berdampak secara multisektor.

Optimisme itu pun disambut investor pembelian saham pada perdagangan hari pertama yang mengalami kenaikan sebesar 35%, bahkan mencapai batas auto reject yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia. 

“Orang bijak bilang, badai pasti berlalu. Karena itu, masyarakat harus tetap optimis dan kita harus berani mengucapkan bye bye (selamat tinggal) pada covid-19. Kini saatnya kembali menjalankan bisnis secara agresif guna menyongsong kebangkitan pasar,”  imbuhnya.

Jang Rony menjelaskan, aksi korporasi yang dilakukan tersebut merupakan langkah terakhir dari proses Penawaran Umum Saham Perdana (IPO/Initial Public Offering) yang telah dipersiapkan Aesler sejak beberapa bulan terakhir. 

Melalui IPO ini Aesler menawarkan saham baru kepada publik sebanyak 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta) lembar saham atau setara dengan 20% jumlah modal yang ditempatkan dan disetor. Saham tersebut dikategorikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai efek syariah. 

Baca juga : Geliatkan Ekonomi, Indonesia Ekspor Baja ke Amerika

Dengan begitu, Aesler berhasil menghimpun dana sebesar Rp25 miliar dimana sekitar 55%-nya akan dialokasikan bagi pembelian alat seperti komputer guna kepentingan real-time rendering dan mesin fit-out, sedangkan 45% sisanya untuk modal kerja. 

“Dengan penambahan penggunaan teknologi kami berharap bisa bekerja lebih cepat dan efisien sehingga mampu menggandakan pendapatan hingga lima kali lebih besar dibandingkan capaian pada periode sebelumnya”, cetus Jang Rony. 

Menariknya, Aesler merupakan perusahaan arsitektur pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Setelah IPO ini, kepemilikan PT Nakula Investama Indonesia pada Aesler Grup Internasional akan menyusut dari 55% menjadi 44%. Sementara itu, kepemilikan Jang Rony berkurang dari 45% menjadi 36%. 

“Melantainya Aesler di BEI merupakan key milestone dalam perjalanan bisnis jasa arsitektur yang dirintis sejak 2010 silam. Sebab, dengan menjadi perusahaan publik, Aesler dalam menjalankan bisnisnya akan melangkah sebagai entitas usaha yang accountable, transparan dan bertanggungjawab pada investor, masyarakat serta seluruh stakeholders,” paparnya. 

Diproyeksikan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya pendapatan Aesler hingga akhir 2020 akan bertumbuh sebesar 67,40% dengan laba bersih sebesar 38,26%.  

Hal ini ditopang oleh beberapa kontrak baru yang diperoleh perseroan. Selain itu, akan ada tambahan pendapatan dari fit out yang mulai ditekuni pasca IPO. 

“Kami melihat, hingga saat ini permintaan jasa manajemen konstruksi dan kebutuhan penyediaan blueprint dari sektor high rise building di Indonesia terbilang masih cukup besar. Hal ini seiring dengan kian tingginya tingkat kepadatan penduduk serta keterbatasan ketersediaan lahan di kota-kota besar,” pungkas Jang Rony penuh optimis. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT