09 April 2020, 22:50 WIB

TikTok akan Sumbang US$250 Juta untuk Perangi Covid-19


Widhoroso | Humaniora

TIKTok, aplikasi video seluler yang tumbuh cepat, berjanji untuk menyumbang US$250 juta atau sekitar Rp3,9 triliun dalam upaya memerangi pandemi virus korona (Covid-19) di seluruh dunia. Perusahaan yang berbasis di Tiongkok tersebut mengatakan sumbangan  itu akan diberikan untuk pekerja medis yang menangani Covid-19, pendidik, serta komunitas lokal yang sangat terpengaruh oleh krisis global akibat Covid-19.  

TikTok mengikuti langkah perusahaan teknologi termasuk Google, Facebook dan Netflix serta dari para pemimpin Microsoft, Amazon, dan Twitter yang menyumbangkan dana untuk memerangi Covid-19. "Kami berkomitmen untuk memainkan peran untuk saling mendukung dan memberi," kata Presiden TikTok Alex Zhu, Kamis (9/4).

TikTok mengatakan dana yang akan disumbangkan akan dibagi-bagi untuk beberapa sektor. US$150 juta dana akan dialokasikan untuk kepegawaian medis, pasokan, dan bantuan kesulitan bagi pekerja perawatan kesehatan melalui Pusat Pengendalian Penyakit AS, Organisasi Kesehatan Dunia, dan lembaga-lembaga yang bekerja untuk mendistribusikan pasokan di negara-negara yang terpukul parah termasuk India, Indonesia , Italia, dan Korea Selatan.

"US$ 40 juta akan disumbangkan ke organisasi yang melayani kelompok perwakilan dari komunitas pengguna TikTok yang beragam, termasuk musisi, seniman, perawat, pendidik, dan keluarga yang telah berkumpul di platform kami," kata Zhu.

TikTok, yang populer di kalangan remaja karena video musik pendeknya,  menjadi salah satu platform sosial yang paling banyak digunakan belakangan ini. Aplikasi yang dimiliki perusahaan teknologi Tiongkok,  ByteDance, pada Maret 2020 telah diundur sebanyak 65 juta kali di seluruh dunia.

Pejabat dari FBI, Departemen Kehakiman dan Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat telah memperingatkan aplikasi berbagi video ini bisa menjadi alat lain yang dimanfaatkan badan intelijen Cina. Namun TikTok membantah memiliki hubungan dengan pemerintah Tiongkok. (AFP/R-1)

 

BERITA TERKAIT