09 April 2020, 13:54 WIB

Tinggal di Asrama Padat, Pekerja Migran Khawatir Covid-19


Deri Dahuri | Internasional

PARA pekerja migran di Singapura tengah hidup dalam kekhawatiran seiring dengan meningkatnya kasus infeksi virus korona baru atau Covid-19. Pasalnya mereka tinggal di asrama atau tempat tinggal yang rapat, padat, dan kotor sehingga mereka sulit menerapkan physical dan social distancing.

Dalam beberapa pekan terakhir, Singapura terus berjuang melawan Covid-19 yang kasusnya terus meningkat. Pekan ini, negara-kota di Asia Tenggara itu melakukan karantina empat kompleks asrama besar yang menampung ribuan pekerja migran dari kawasan Asia Selatan. Di kompleks yang dihuni pekerja migran, tercatat ada 200 kasus positif infeksi Covid-19.    

Kepada AFP, seorang pekerja dari Bangladesh mengakui bahwa di lingkungan asramanya, ada beberapa orang yang positif infeksi virus korona tetapi belum diterapkan karatina atau lockdown.

Baca jugaTerapkan Lockdown, Wali Kota di Meksiko Ditembak Mati

Pekerja asal Bangladesh juga mengatakan dengan kondisi asrama yang padat sangat sulit diberlakukan physical dan social distancing.  

"Satu ruangan kecil ditempati 12 orang secara bersama ... bagaimana kita bisa membuat social distancing?" kata buruh migran dalam bahasa Inggris yang meminta namanya jangan ditulis.

Dia juga mengatakan standar kebersihan sangat buruk. Para pekerja migran pun terpaksa menggunakan area memasak dan kamar mandi bersama.

"Kami tahu karakter virus, bagaimana virus menyebar. Jadi jika kondisi kehidupan seperti terus, saya sangat khawatir," tambahnya.

Paling tidak satu kamar yang penuh kecoa memiliki kamar mandi.  Kondisi tersebut pernah dilaporkan surat kabar Straits Times dan mendapat sorotan tajam dari kalangan kritis. Negara Singapura yang cukup kaya dinilai telah memperlakukan para  pekerja migran secara tak layak dan dinilai sebagai tindakan yang memalukan.

Kompleks  asrama  besar itu sebagian besar menampung  para pekerja kuli bangunan dari Asia Selatan biasanya mendapat upah US$ 400 hingga US$ 500 per bulan. Mereka umumnya bekerja di proyek pembangun gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan mewah di ‘Negara Singa’ tersebut.

Seorang pria asal Bangladesh yang tinggal di salah satu asrama yang di-lockdown, mengatakan, para pekerja semakin khawatir tentang meningkatnya jumlah kasus tanpa gejala. "Jelas kita semua khawatir," katanya kepada AFP, yang meminta namanya  jangan ditulis.

"Sejak beberapa hari terakhir, kami sudah mendapat kabar bahwa ada begitu banyak orang yang terkena tanpa gejala," tuturnya.

Kini ada sekitar 280 ribu pekerja konstruksi migran di Singapura. Namun  sebagian besar dari mereka tinggal di asrama mandiri, toko-toko, dan fasilitas lainnya yang menjadi tempat mereka.

Setelah adanya laporan muncul tentang kondisi tidak bersih di salah satu asrama yang di-lockdown, Kementerian Tenaga Kerja Singapura mengatakan pihaknya berupaya memperbaiki kondisi tersebut.

Pihaknya juga akan menyediakan makanan makanan untuk para pekerja migran yang berada di asrama yang di-lockdown dan akan meningkatkan kembersihan lingkungan asrama.

Satuan tugas yang melibatkan pejabat pemerintah, polisi dan angkatan bersenjata juga telah dibentuk untuk memberikan dukungan kepada pekerja asing dan pengelola asrama. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT