09 April 2020, 05:49 WIB

Ini Alasan Perusahaan Spyware Israel Retas Whatsapp


Abdillah Marzuqi | Weekend

WHATSAPP menduga perusahaan spyware (perangkat pengintai) asal Israel, NSO Group telah meretas 1.400 akun pengguna mereka lewat perangkat lunak Pegasus. Berdasarkan dokumen pengadilan, teknologi NSO Group digunakan untuk meretas puluhan target termasuk pejabat intelijen Pakistan, jurnalis India, dan aktivis politik Rwanda yang berada di pengasingan.

Beberapa akun yang diretas juga berasal dari kalangan aktivis HAM, pengacara, jurnalis, dan akademisi. Temuan April lalu menyebut setidaknya 100 pengguna yang menerima pemberitahuan dugaan intrusi oleh WhatsApp.

NSO Group tidak pernah merilis daftar klien mereka dari kalanganpemerintah. Lembaga riset Citizen Lab melacak penggunaan spyware itu. Hasilnya, klien NSO Group meliputi pemerintah  Arab Saudi, Bahrain, Kazakhstan, Maroko, Meksiko, dan Uni Emirat Arab.

Sebelumnya, WhatsApp mengugat NSO Group pada Oktober 2019. Mereka menuduh perusahaan itu mendalangi serangkaian serangan yang dianggap melanggar hukum Amerika Serikat.

Dilansir dari The Guardian, NSO Group menanggapi gugatan tersebut dengan dalih WhatsApp dan Facebook dianggap oleh klien pemerintah mereka, sebagai ruang aman bagi teroris dan penjahat lain. Tanpa layanan NSO Group, penjahat itu dapat beroperasi di suatu negara, tanpa takut terdeteksi oleh penegak hukum.

NSO Group menganggap gugatan WhatsApp akan berimbas pada masalah keamanan nasional dan kebijakan luar negeri klien mereka.

WhatsApp menyatakan NSO Group berusaha menghindari tanggung jawab. WhatsApp juga mempertanyakan keakuratan klaim NSO Group yang menyebut Facebook pernah ingin membeli beberapa teknologi NSO Group pada 2017.

Salah satu pendiri NSO Group, Shalev Hulio, mengatakan NSO pernah didekati dua perwakilan Facebook pada Oktober 2017. Mereka bertanya tentang kemampuan Pegasus. Bahkan pernyataan itu disampaikan di bawah sumpah pengadilan. (M-4)

BERITA TERKAIT