09 April 2020, 06:00 WIB

Penolakan Jenazah Covid-19 Imbas Hoaks dan Hyper Reality


Rahma Sugihartati Dosen Isu-Isu Masyarakat Informasi Prodi S-3 Ilmu Sosial FISIP Unair | Opini

IMBAS meluasnya wabah virus korona baru (covid-19) membuat sebagian masyarakat berubah menjadi soliter, bahkan paranoid. Ketika jumlah pasien yang meninggal akibat covid-19 terus bertambah, alih-alih bersimpati, di berbagai daerah justru muncul kasus penolakan sebagian warga terhadap pemakaman jenazah pasien covid-19.

Dengan dalih tidak mau berisiko tertular covid-19, sebagian warga memilih menutup rapat-rapat terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan virus korona. Di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dan di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, misalnya, dilaporkan sejumlah warga di sekitar lokasi pemakaman menolak jenazah tersebut untuk dimakamkan setelah mengetahui riwayat kematiannya. Tidak hanya menolak, ambulans yang membawa jenazah korban covid-19 juga diusir secara paksa oleh warga setempat.

Di Bandar Lampung, dilaporkan juga terjadi kasus yang sama. Lokasi pemakaman pasien positif covid-19 di Bandar Lampung terpaksa di pindah di lahan Pemerintah Provinsi Lampung karena warga di sekitar TPU Batu Putuk, Teluk Betung Barat, menolak jenazah tersebut untuk dimakamkan.

Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pemakaman jenazah pasien covid-19 dilaporkan sempat tertunda sebab para penggali kubur menolak melakukan pemakaman karena takut tertular virus korona. Setelah Bupati Sidoarjo turun tangan dan berhasil meyakinkan para penggali kubur, akhirnya jenazah bisa dimakamkan.

Kasus penolakan pemakaman jenazah pasien covid-19 di Tanah Air bisa terus bertambah. Di berbagai daerah, fenomena penolakan jenazah korban covid-19 bermunculan diduga karena kurangnya edukasi dan pemahaman warga terhadap protokol pemakaman jenazah pasien covid-19. Sebagian masyarakat yang sudah telanjur ketakutan, akhirnya memilih jalan pragmatis: menolak pemakaman jenazah korban covid-19 dengan alasan khawatir tertular.

Keliru

Dalam berbagai kesempatan sebetulnya tidak sekali atau dua kali para pejabat, tokoh sosial-keagamaan, dan lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan edukasi agar masyarakat tidak berlebihan dalam menyikapi korban covid-19, baik yang masih dalam pantauan, sakit, maupun yang telah wafat.

Sikap sebagian masyarakat yang sering bersyak wasangka dan bahkan reaktif niscaya malah akan melahirkan masalah baru yang kontraproduktif. Karena ancaman penyebaran covid-19 benar-benar mengerikan dan masyarakat setiap hari bahkan nyaris setiap detik terus disuguhi dengan berita-berita bahaya covid-19, bisa dimaklumi jika yang timbul ialah respons yang keliru.

Pertama, kita tentu tidak menutup mata bahwa di dunia maya dan media sosial banyak bertebaran hoaks seputar covid-19 yang membuat sebagian masyarakat keliru memahami bahaya dan bagaimana seharusnya menyikapi korban covid-19.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, hingga 18 Maret 2020 paling tidak ada 242 konten hoaks dan misinformasi yang berkaitan dengan virus korona yang bertebaran di dunia maya. Masyarakat yang tidak memiliki tingkat literasi informasi yang baik, tentu rawan menjadi korban hoaks.

Tidak peduli apakah informasi yang mereka akses benar atau salah, mereka menelan mentah-mentah begitu saja informasi bohong tentang covid-19 tersebut. Konstruksi yang berkembang di benak mereka pun menjadi salah.

Kedua, karena booming informasi tentang covid-19 benar-benar membanjiri bak air bah, di masyarakat pun akhirnya muncul apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai hyper reality. Baudrillard (1983: 20) menggambarkan kehidupan di era postmodern seperti sekarang ini media umumnya berhenti menjadi cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri atau bahkan lebih nyata dari realitas itu.

Televisi, surat kabar, tabloid, dan berita-berita daring justru kerap kali menawarkan distorsi informasi yang melebihi realitas. Di benak masyarakat, sering terkonstruksi apa yang nyata (real) disubordinasikan dan akhirnya dilarutkan sama sekali sehingga tidak lagi mudah membedakan yang nyata dan sekadar pencitraan. Dalam kehidupan nyata, kejadian-kejadian 'nyata' semakin mengambil ciri hyper real sehingga tidak ada lagi realitas, yang ada hanyalah hyper reality.

Booming informasi tentang covid-19 ialah situasi masyarakat yang seolah-olah dibombardir dengan berbagai informasi tentang virus korona yang terus berkembang tanpa henti dan menyebabkan realitas sosial yang asli menjadi mati. Lalu, memunculkan kontruksi realitas yang baru, yang melampaui alam, sifat, atau tapal batas yang seharusnya tidak ia lewati.

Kelebihan informasi tentang covid-19 yang terus menjejali benak masyarakat dengan berbagai hal baru inilah yang kemudian justru menghancurkan objektivitas dan tujuannya, yang ujung-ujungnya menciptakan kondisi tentang matinya realitas.

Masyarakat yang hakikatnya memiliki sikap sosial, mudah berempati pada penderitaan orang lain, akhirnya semua terkalahkan konstruksi yang dibentuk realitas virtual. Realitas yang dikonstruksi hoaks dan bombardir informasi di media massa ataupun media sosial.

Literasi

Menolak pemakaman jenazah korban covid-19, bukan saja merupakan sikap yang i-humanis, melainkan juga cerminan dari kekeliruan cara pandang yang salah kaprah. Untuk menyadarkan masyarakat agar memahami protap seputar pemakaman jenazah korban covid-18, selain dibutuhkan edukasi dan sosialisasi terus-menerus yang melibatkan ulama dan tokoh keagamaan, yang tidak kalah penting juga menguatkan literasi informasi masyarakat menyikap membanjirnya hoaks dan hyper reality tentang covid-19.

Tidak ada yang salah ketika sebagian masyarakat bersikap ekstra hati-hati menyikapi bahaya covid-19. Namun begitu, semua harus dilakukan dan dilandasi dengan pengetahuan yang memadai tentang covid-19. Jangan sampai terjadi, akibat hoaks yang beredar di dunia maya dan media sosial, justru masyarakat menjadi terlalu peka dan mudah bersyak wasangka tanpa dasar.

Kita semua wajib menjaga keselamatan keluarga dari semua ancaman yang merugikan. Namun, sikap resisten yang berlebihan dan implementasi keyakinan yang membabi buta, sesungguhnya akan berisiko membuat nurani kita menjadi tumpul.

BERITA TERKAIT