08 April 2020, 17:30 WIB

Mahasiswa Tata Busana Didorong Terlibat Produksi APD


Abdillah Muhammad Marzuqj | Humaniora

GUNA menyiasati langkanya alat perlindungan diri (APD) nggota DPR RI Marwan Jafar mengusulkan pengerahan mahasiswa tata busana memproduksinya.

Menurut Marwan, pembuatan kostum dekontaminasi ini memerlukan desain dan berbahan khusus. Karena proses pembuatan tak mudah, perlu pengerahan dan pelibatan para mahasiswa tata busana, desainer, sekolah kejuruan serta lembaga dan instansi terkait.

 “Mereka punya kemampuan untuk memproduksi APD. Apalagi ketersediaan dan kewajaran harga bahan baku pakaian APD belakangan ini tiba-tiba sulit didapat dan harganya sangat setinggi langit,” ujarnya, Rabu (8/4).

Ia menambahkan,masalah pengadaan busana yang dikenal dengan nama hazmat (hazardous materials) alias sebagai kostum pelindung dari  material berbahaya, harus terus menjadi perhatian serius berbagai pihak. 

"Kemendikbud misalnya bisa mengkoordinasi perguruan tinggi dan sekolah kejuruan se-Indonesia yang memiliki program studi dan jurusan tata busana," ujarnya.

Sedangkan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Koperasi dan UKM juga diharapkan dapat saling bersinergi terkait kemudahan mengakses bahan baku.

Marwan juga mengingatkan, proses pembuatan busana khusus APD tidak bisa sembarangan atau asal-asalan.

“Terutama pakaian hazmat ini juga harus memenuhi kriteria atau standar yang ditetapkan WHO. Ada masukan info dari beberapa daerah mulai ditemukan produksi APD yang cukup massal oleh para spekulan, tidak sesuai standar WHO dan kemudian menjualnya dengan harga yang tidak wajar," imbuh politisi PKB itu.

Anggota Komisi VI DPR ini meyakini, kemampuan memproduksAPD standar WHO juga bakal membawa dampak positif berganda. Mulai dari melatih para mahasiswa menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan kegotongroyongan profesi, penguatan industri kecil nasional, memperkokoh pasar perdagangan dalam negeri serta memacu pelaku UMKM bersaing secara sehat. (OL-8).

BERITA TERKAIT