08 April 2020, 06:38 WIB

Semangat Belajar Warga Putus Sekolah di Tengah Pandemi


Tosiani | Nusantara

HUJAN deras yang mengguyur Lereng Gunung Sumbing ketinggian 1.500 meter dpl tak menyurutkan niat sejumlah warga yang semuanya adalah petani untuk belajar. Selasa (7/4/2020) Petang itu adalah pertemuan pertama kelompok belajar warga Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung, Jawa Tengah di salah satu rumah warga usai rehat dua pekan akibat pandemi Covid-19.

Kendati daerah ini merupakan zona hijau tidak terpapar wabah, namun mereka tetap menghormati aturan pemerintah untuk tidak berkumpul atau menimbulkan kerumunan. Namun semangat mereka untuk belajar terus menggelora, sehingga menyempatkan diri berkumpul pada dengan membuat jarak dan mengenakan masker.

Sang Guru, Mariska Yudhawati memberi mereka permainan 'Petualangan Desaku Sindoro Sumbing' untuk memudahkan para petani berusia 29-40 tahun belajar matematika. Ini mirip permainan ular tangga di atas peta Kabupaten Temanggung yang diberi nomor pada tiap titik desa. Siswa mengundi dadu untuj mendapatkan nomor, lalu menemukan kuis hitung-hitungan matematika pada kartu berwarna merah, pink, kuning, biru yang menempel pada gambar peta.

"Maksud permainan itu untuk mengenalkan peta Temanggung. Juga supaya belajar tidak bosan karena konsentrasi orang yang sudah bukan usia pelajar tentu beda. Ini permainan yang menambah daya ingat. Matematika yang diajarkan juga tidak seperti pelajaran di sekolah, tapi matematika sosial tentang kehidupan sehari hari," katanya.

Upaya memberikan pendidikan non formal dilakukan Mariska sejak 2017 lalu, seiring dengan antusiasme warga untuk belajar. Selain Mariska, ada tiga orang guru lagi yang terlibat. Pelajaran untuk warga lereng Gunung Sumbing diberikan dua kali dalam sepekan. Untuk transportasi ke lokasi tersebut dari rumahnya di daerah kota yang berjarak sekitar 17 kilometer, Mariska menggunakan uang pribadinya, hasil dari bekerja sebagai guru honorer.

Mariska juga menyelipkan ketrampilan dan kewirausahaan seperti membuat teh dan mengolah sayuran busuk untuk membuat kompos organik. Selanjutnya kompos digunakan untuk pupuk tanaman tembakau supaya kondisi tanah tidak rusak oleh pupuk kimia.

Tri Supono,32, Ketua Karang Taruna Desa Legoksari, Tlogomulyo, mengatakan, dirinya bergabung dengan kelompok belajar itu karena sangat ingin menempuh pendidikan tinggi. Namun hal itu belum terwujud karena setelah lulus SMP belasan tahun silam ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena kesulitan ekonomi.

"Sekarang saya sudah cukup mapan secara ekonomi jadi ingin sekolah lagi. Saya mengajak teman-teman di karang taruna untuk belajar. Saya tambah bersemangat karena anak saya yang masig berusia tujuh tahun selalu menyemangati saya untuk belajar,"ungkap Tri.

baca juga: 85 Anggota DPRD Banten Jalani Rapid Test Covid-19

Semula ada 26 orang putus aekolah yang ikut bergabung dalam kelompok belajar itu. Namun karena kurang motivasi, banyak yang kurang aktif. Sekarang hanya 12 orang yang aktif belajar. Mereka kerap membawa anak balitanya ke lokasi belajar.

Andi Kurniawan,37, siswa lainnya, mengatakan, mulanya sewaktu diajak belajar ia masih bimbang karena umurnya sudah tidak muda. Ia tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMP.

"Saya berpikir apa bisa kalau mau sekolah lagi, sudah lama tidak belajar jadi malas berpikir pelajaran. Tapi karena banyak yang ikut jadi tertarik ikut belajar, dan malah senang. Saya pikir belum terlambat untuk belajar," ujarnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT