08 April 2020, 03:00 WIB

Memasang Tanda Kuburan Massal Covid-19


MI | Megapolitan

ISAK tangis mewarnai pemakaman massal korban penyakit menular di blok khusus Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (7/4).

Pemakaman puluhan jenazah di blok khusus tersebut disertai dengan sanak keluarga membawa salib atau nisan. Pada papan salib maupun nisan tercetak nama dan tanggal/meninggal almarhum/almarhumah. Keluarga ingin adanya kepastian bahwa makam tersebut benar-benar
keluarga sendiri.

Dari penelusuran Media Indonesia, jenazah-jenazah yang dimakamkan di Blok AA-1, umumnya korban covid-19 serta penyakit menular. Kemarin, sebanyak 21 jenazah dimakamkan terdiri dari 11 laki-laki dan 10 perempuan.

“Suami saya korban virus korona. Dia terkena covid-19 tiga hari silam dan langsung kami larikan ke Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa agar ayah bisa mendapatkan tempat yang terbaik,” tutur Talise dengan mata berkacakaca saat ditemui di lokasi, Selasa (7/4) pukul 11.00 WIB.

Kepedihan serupa dirasakan Roni yang istrinya juga korban virus korona. “Istri saya terkena virus korona tiga hari lalu. Saat itu kami bawa ke puskesmas, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Tadi pagi meninggal,”
katanya. 

Roni mengaku pasrah dan berdoa semoga sang istri mendapat tempat layak di sisi Allah Yang Mahakuasa. Ke-21 jenazah dimakamkan sejajar dengan jasad tanpa identitas (Mr X) yang dikuburkan secara massal di TPU Pondok Ranggon. 

Terhitung dari 14 Maret hingga 7 April 2020 sudah 335 jenazah dimakamkan di permakaman massal tersebut. Kematian mereka terdaftar sebagai akibat penyakit menular. Petugas permakaman menyebut semua akibat virus korona. Tentu saja, petugas permakaman bisa salah sebab angka kematian nasional sebagaimana disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, masih 221  orang hingga 7 April.

Menurut Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Susi Marsitawati, pihaknya telah melakukan pemulasaraan 639 jenazah, di antaranya 126 dinyatakan positif covid-19 hingga Senin (6/4).

Apakah semua mereka korban covid-19, Marsitawati tidak bisa memastikan sebab banyak jenazah berstatus orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP). “Mereka meninggal sebelum tes terkait covid-19 keluar,” cetusnya. (KG/Put/J-2)

BERITA TERKAIT