07 April 2020, 18:35 WIB

Singapura Jadi 'Kota Mati' karena Pandemi Covid-19


Nur Aivanni | Internasional

Distrik bisnis yang biasanya ramai di Singapura nyaris sepi pada Selasa (7/4) karena sebagian besar tempat kerja di negara itu ditutup. Keputusan Pemerintah Singapura menutup kantor bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus covid-19 setelah adanya lonjakan kasus penyakit tersebut.

Pusat keuangan mendapat pujian karena menggunakan sistem yang baik dalam menguji dan melacak kontak orang sakit untuk menjaga wabah tetap terkendali. Namun, negara melihat adanya lonjakan infeksi baru dalam beberapa hari terakhir.

Sebelumnya, pihak berwenang menentang kebijakan keras yang berlaku di negara-negara lain yang lebih terdampak virus korona. Sekarang berbeda. Negara itu telah memerintahkan penutupan semua bisnis yang dianggap tidak penting juga sekolah dan meminta warga untuk tetap berada di rumah.

Baca juga: Singapura Ciptakan Rapid Test Covid-19 Tercepat, Hanya 5 Menit

Adanya aturan tersebut mengubah suasana di Singapura. Dikutip dari France24, Selasa (7/4), hanya ada segelintir orang di alun-alun utama. Padahal biasanya area bisnis itu selalu penuh sesak.

"Rasanya seperti kota mati. Semua orang takut. Mereka semua bersembunyi di rumah," kata Jenny Lee, yang bekerja sebagai broker asuransi kepada AFP. "Semua orang menghilang," tambahnya.

Perdana Menteri Lee Hsien Loong telah meminta warga Singapura untuk tetap berada di rumah. Sekolah akan ditutup mulai Rabu.

Singapura melaporkan 66 kasus covid-19 pada Senin (6/4), sehingga total kasus menjadi 1.375, termasuk enam kematian.

Walaupun angka-angka ini rendah dibandingkan dengan banyak negara lain, pemerintah tetap memutuskan untuk mengambil tindakan setelah adanya peningkatan kasus yang ditularkan secara lokal. (France24/OL-14)

BERITA TERKAIT