07 April 2020, 10:05 WIB

Secara Teknikal, Indeks Masih Mampu Lanjutkan Penguatan


Despian Nurhidayat | Ekonomi

Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Selasa (7/4) pagi, melanjutkan hasil positif dan kembali menapaki zona hijau. Dari pantauan Media Indonesia, pada pukul 09.00 WIB, IHSG naik 1,32% atau 63,67 poin di level 4.875,49.

Namun pada  pukul 09.40 IHSG sempat merosot pada level 4.750 atau turun 61 point (1,23%) dan berhasil kembali positif pada pukul 9.49 di level 4.812 .

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi memprediksi bahwa secara teknikal, pergerakan IHSG break out MA20 sehingga mengkonfirmasi lanjutan penguatan menguji resistance FR61.8% dikisaran 5000.

Selain itu, Lanjar menegaskan bahwa Indikator Stochastic terkonsolidasi pada area overbought dengan Indikator RSI yang masih memberikan signal dorongan positif.

"Sehingga kami perkirakan IHSG akan bergerak mencoba melanjutkan penguatannya dengan support resistance 4800-5000," ungkap Lanjar dalam riset hariannya, Selasa (7/4).

Lanjar menilai bahwa mayoritas bursa saham Asia kemarin ditutup menguat mengiringi bursa saham berjangka AS yang naik lebih dari 3%. Indeks Nikkei (+4.24%) TOPIX (+3.86%) dan HangSeng (+2.08%) naik signifikan sedangkan CSI300 ditutup libur di Shanghai.

Hal ini terjadi lantaran Italia mengatakan memiliki korban jiwa covid-19 paling sedikit dalam lebih dari dua minggu, sementara Prancis melaporkan jumlah terendah dalam lima hari dan penghitungan Spanyol turun untuk hari ketiga berturut-turut.

"Meskipun IHSG menguat signifikan, Investor domestik yang masih terlihat mendominasi di mana investor asing justru tercatat net sell sebesar 489.78 miliar rupiah," lanjutnya.

Sementara itu, riset Valbury Sekuritas menilai bahwa pergerakan IHSG hari ini masih fluktiatif. Mengingat pesimistis lembaga keuangan internasional atas pertumbuhan ekonomi dunia, serta perkirakan perekonomian Indonesia dapat melambat tajam, menjadi salah satu sinyalemen yang dapat berpengaruh bagi pasar.

"Akan tetapi dampak tersebut dapat tereliminir saat ini, oleh akumulasi sentimen baik dari eksternal dan internal, berupa kenaikan saham AS pada Senin, dan harga minyak yang cenderung menguat serta perkiraan stabilitas rupiah," pungkas Valbury Sekuritas.

Sentimen pasar dari dalam negeri pun kini berkutat pada proyeksi Bank Pembangunan Asia (ADB) terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya tumbuh 2,5% tahun ini, atau lebih rendah dari realisasi tahun 2019 sebesar 5,0%.

Pandemi covid-19 dinilai membuat tekanan pada perekonomian nasional, akibat permintaan dalam negeri dan luar negari semakin melemah. Sebelumnya Skenario yang dilakukan pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya berada dikisaran 2%. Bahkan dalam skenario terberat pertumbuhan ekonomi bisa -0,4%.

"Penurunan pertumbuhan ekonomi ini karena konsumsi rumah tangga turun, demikian juga dengan investasi. Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KKSK) memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini turun jadi 2,3% dan lebih buruk bisa negatif 0,4%," ujarnya. (E-1)

BERITA TERKAIT