07 April 2020, 07:20 WIB

Aduh, Ini mah Malah Tambah Penyakit


Tri Subarkah/X-7 | Humaniora

SAAT memasuki rumah sakit rujukan nasional, Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM), pandangan pertama setiap pengunjung pasti tertuju pada kursi-kursi roda yang saling silang di tengah kerumunan orang banyak.

Bila hari-hari biasanya RSCM memang sudah kerap disesaki pasien rujukan dari pelbagai wilayah Indonesia, kini situasi tampak lebih semrawut. Para pasien dan pendamping mereka terlihat berjejalan, karena harus melalui proses screening untuk dapat berobat di rumah sakit umum pusat nasional tersebut.

Mereka diharuskan mengambil nomor antrean hingga ratusan untuk dapat disaring, kemudian mengantre di poli dokter spesialis masing-masing.

Mereka menunggu antrean untuk di-screening di bawah tenda ala kadarnya yang tak memadai untuk berteduh. Kursi-kursi yang disediakan
untuk duduk juga minim.

Marka di kursi-kursi tunggu sebagai pembatas jarak pun dilupakan. Pasien dan pendampingnya yang keletihan terpaksa menduduki kursi yang sudah dimarkai tersebut. Sisanya, terpaksa berteman panas matahari di aspal yang sejatinya menjadi tempat parkir mobil di RSCM. Imbauan untuk menerapkan physical distancing pun tak berlaku.

Petugas RSCM yang berbicara lewat pengeras suara nyaris tak terdengar. Maklum suara serak yang terdengar hanya dalam radius 4 meter itu nyaris tidak menembus kerumunan antrean manusia. Informasi bisa diperoleh jika seseorang aktif bertanya.

Salah seorang pasien di RSCM, PP, 38, mengatakan, tiba di RSCM pukul 07.00 WIB, tetapi mendapat nomor antrean sudah di angka 600-an. Ia mengaku prihatin dengan sistem antrean proses screening di RSCM yang tidak mengindahkan penjarakan fisik.

“Aduh, ini mah tidak mengindahkan penjarakan fisik, yang ada malah nambah penyakit. Udah gitu semua pasien dijadiin satu. Kita enggak tau mana penyakit yang kena covid atau enggak. Yang ada, orang sehat malah kena semua,” ungkap PP, kemarin.

Ia mengaku merasa khawatir. Pasalnya, untuk tidak tertular covid-19 setiap orang harus ambil jarak. “Harusnya setiap poli dibeda-bedain aja, nggak dijadiin satu semua pasien. Satu kena, ya bisa kena semua.”

Hal yang sama dialami Ghege, 30, yang mendampingi ayahnya berobat. “Dari Lebak Bulus jam 06.00 sampai jam 07.00 udah dapet nomor antrean 500. Karena kita sudah janjian hari ini, takutnya kalau besok-besok enggak bisa lagi. Saya enggak takut, yang penting waspada. Kita pakai masker, cuci tangan, hand sanitizer juga selalu bawa,” tutur Ghege.

Menurut seorang petugas RSCM, menyemutnya pengunjung rumah sakit karena sistem antrean tersebut baru diterapkan per Senin (6/4).

Akibat membeludaknya massa, nomor antrean untuk screening pun habis. Akhirnya, mereka yang sudah mengambil nomor maupun belum berada di barisan yang sama tanpa menjaga jarak antara satu dan lainnya. (Tri Subarkah/X-7)

BERITA TERKAIT