06 April 2020, 20:34 WIB

IKM Siap Produksi APD dan Masker


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

Kementerian Perindustrian mengungkapkan sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri siap memproduksi masker dan alat pelindung diri (APD) untuk perawat yang menangani pasien positif virus korona atau covid-19.

IKM tersebut antara lain tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, mengatakan dari enam daerah tersebut terdapat 50 IKM menyatakan mampu memproduksi APD maupun masker. Hal itu dilihat setelah Kemenperin mengeluarkan kuesioner kesiapan IKM dalam penyediaan APD bagi tenaga medis.

"Kapasitas produksi masker dari masing-masing IKM tersebut berkisar antara 50 hingga 500 lembar per hari. Sedangkan, untuk kapasitas produksi APD, mereka sanggup membuat 20-250 buah per hari," kata Gati melalui keterangan tertulisnya, Senin (6/4).

Kendati demikian, baru terdapat 55% IKM  memahami standar pembuatan masker. Sehingga, 77,5% IKM mengaku mampu memproduksi masker dan APD yang tidak berstandar medis.

Karena itu, Dirjen IKMA mendorong para pelaku IKM agar dapat memproduksi masker nonmedis, mengingat kebutuhannya saat ini sangat tinggi dan persyaratannya yang tidak terlalu memberatkan sehingga pelaku IKM dinilai mampu memproduksinya.

"Untuk masker nonmedis harus dibuat dua lapis supaya bisa menyaring dengan lebih maksimal. Jadi, IKM membuatnya dengan bebas dan tidak ada persyaratan untuk izin edar, karena yang harus ada izin dan memenuhi SNI adalah masker medis," tutur Gati.

Upaya tersebut dinilai dapat menjadi solusi untuk mempertahankan bisnis IKM dalam negeri di tengah kondisi mewabahnya covid-19 dengan memanfaatkan kain yang dimiliki atau bermitra dengan penyedia tekstil.

Gati juga mengatakan agar para IKM melakukan self declare atau menyatakan kegunaan dari produk masker yang dibuat dan memaparkan bahwa masker yang dibuat merupakan masker nonmedis.

"Kalau mereka mendeklarasikan anti-bakteri, tahan air dan lain-lain, ini juga harus dibuktikan dulu kalau kain yang mereka gunakan memang memenuhi syarat mutu tersebut," ungkap Gati.

Saat ini beberapa IKM mampu membuat produk yang dibutuhkan untuk penanganan covid-19. IKM tersebut tengah mendapatkan perhatian dari dinas terkait untuk bisa dibelanjakan anggaran. (E-3)

BERITA TERKAIT