06 April 2020, 13:34 WIB

Guyuran Stimulus Pemerintah Berefek Positif, IHSG Menghijau


Despian Nurhidayat | Ekonomi

PERGERAKAN indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Senin (6/4) pagi, kembali menapaki zona hijau. Dari pantauan Media Indonesia, pada pukul 09.06 WIB, IHSG naik 1,23% atau 56,66 poin di level 4.680,09.

Sesuai dengan prediksi, Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan bahwa indeks masih akan menunjukkan efek positif guyuran stimulus pemerintah menyikapi skenario terburuk dampak pandemi virus korona.

"Kami perkirakan IHSG akan bergerak fluktuatif dengan potensi penguatan di atas 4.650," ungkap Lanjar dilansir dari risetnya hariannya, Senin (6/4).

Seperti yang diketahui di akhir Maret lalu, pemerintah telah mengumumkan stimulus untuk menambah alokasi belanja dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp405 triliun. Dari total stimulus Rp405 triliun, sebesar Rp 110triliun untuk program perlindungan sosial dan Rp75 triliun untuk kesehatan.

Sementara Rp150 triliun dialokasikan bagi pemulihan ekonomi dan Rp70,1 triliun insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat (KUR). Konsekuensinya, dana extraordinary ini memicu peningkatan defisit anggaran hingga 5,07%.

Riset Valbury Sekuritas menyoroti hal tersebut dan mengatakan bahwa angka tersebut telah melewati ambang defisit dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dalam penjelasan Pasal 12, defisit anggaran dibatasi maksimal 3% dari produk domestik bruto (PDB).

"Sebagai payung hukumnya, pemerintah mengeluarkan Perpu sebagai relaksasi kebijakan defisit APBN di atas 3%, paling tidak selama tiga tahun. Pemerintah mengeluarkan anggaran untuk meredam dampak covid-19 untuk mampu menahan kejatuhan bagi perekonomian nasional," pernyataan riset harian Valbury Sekuritas.

Selain itu, Perppu No.1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan, (KSSK) menyebutkan bahwa pemerintah akan mengatur langkah-langkah extraordinary terkait kebijakan di sektor keuangan melalui perluasan kewenangan KSSK terutama untuk Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Salah satunya, mengatur BI dapat membeli SUN atau SBSN jangka panjang di pasar perdana membeli Repo surat berharga milik LPS apabila terjadi persoalan solvabilitas bank sistemik maupun bank nonsistemik, serta memberikan pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan jangka pendek syariah kepada bank sistemik maupun non sistemik. Langkah ini pun diharapkan dapat menahan dampak tekanan bagi perekonomian nasional akibat dari covid-19.

Meskipun demikian, riset Valbury Sekuritas memprediksi pelaku pasar akan tetap fokus pada permasalahan besar yang terjadi saat ini yang terus mengancam jiwa manusia dari penyakit covid-19 ini yang belum menunjukan tanda-tanda akan berakhir.

"Dampak dari covid-19 menjadi ancaman bagi perekonomian dunia yang menjadi ganjalan bagi pasar. Diperkirakan tekanan bagi IHSG berpotensi bisa terjadi di pekan ini seiring ketidakpastian dari wabah covid-19 ini," pungkasnya. (E-3)

BERITA TERKAIT