06 April 2020, 12:41 WIB

Terdampak Covid-19, Skema Pelaksanaan UTBK 2020 Masih Dikaji


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

JADWAL pendaftaran dan pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 ditunda akibat pandemi virus korona (covid-19).

Sampai saat ini, Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) pun belum memberikan kepastian kapan pendaftaran UTBK akan dibuka dan jadwal pelaksanaannya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, mengungkapkan panitia penyelenggara UTBK masih mengkaji skema pelaksanaan yang tepat. Terutama untuk menekan potensi penyebaran covid-19. Sebab, keselamatan peserta dan pelaksana adalah hal utama.

Baca juga: Kemendikbud Atur Penundaan UN 2020 di Daerah Darurat Covid-19

"Tim SBMPTN ini di-pending karena sepertinya petunjuk pelaksana (juklak) dan petunjuk teknisnya (juknis) belum siap. Mereka mencari yang terbaik seperti apa, itu belum ready. Ketika kita mengatakan bagaimana dengan daerah 3T, beliau (Mendikbud) menyampaikan, jujur kami juga nggak tahu cara lain selain secara daring," ungkap Dede saat dihubungi, Minggu (5/4).

Dede menuturkan sempat muncul opsi untuk menggelar UTBK secara daring. Namun, lanjut dia, tidak semua mahasiswa dan tidak semua kampus sanggup melakukan ujian berbasis jaringan internet. Selain itu, pelaksanaan UTBK secara daring berpotensi terjadi kecurangan.

"Kalau secara daring, kan kita tidak tahu kalau siswanya melakukan tes dengan baik atau tidak. Jadi untuk tesnya kesimpulannya memang adalah menunggu waktu yang tepat atau ada juklak juknis lainnya," pungkas Dede.

Baca juga: Cegah Penularan Covid-19, Opsi Penundaan SBMPTN Dikaji

Terkait kemungkinan penerimaan mahasiswa baru dengan menggunakan nilai rapor lima semester terakhir, Dede menilai skema tersebut kurang efektif. Komisi X DPR telah meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) agar tidak menggeser tahun pelajaran yang sudah ada.

"Menggunakan nilai semester belum tentu bisa menjadi sebuah patokan karena akhirnya ada siswa lain yang mungkin nilainya sama atau sama baiknya. Metode penerimaannya bagaimana, kan agak sulit juga karena ada pembatasan kuota,” ucapnya.

“Kemudian untuk perguruan tinggi swasta biasanya baru kedapatan orang mendaftar setelah PTN selesai. Baru mereka ramai-ramai daftar. Metode pengujiannya seperti apa juga kan tidak ada yang bisa melakukan controlling. Jadi sampai juklak juknisnya belum diketahui, mereka (panitia) sepertinya mengambil opsi mem-pending jadwal," jelas Dede.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT