06 April 2020, 14:25 WIB

Ini Kerugian IKM Otomotif Akibat Pabrikan Stop Beroperasi


Hilda Julaika | Ekonomi


Sejumlah pabrikan otomotif dalam negeri telah menghentikan operasional pabriknya. Permintaan pasar yang menurun dan pasokan bahan baku yang tersendat akibat wabah covid-19 menyebabkan mereka menghentikan operasional pabrik.

Lalu bagaimana dampak dari berhentinya  operasional pabrik otomotif itu kepada para pemasoknya. Berikut hitung-hitungannya. 

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kemenperin, Industri Kecil dan Menengah (IKM)  komponen dan suku cadang otomotif pendukung masih tetap berproduksi.  Meskipun sebagian besar mengalami penurunan permintaan dari vendor dan tingkat ketergantungannya sangat tinggi. 

Sebagai contoh, apabila Honda dan Yamaha berhenti produksi, potensi kerugian mencapai sekitar Rp2 miliar untuk IKM anggota Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK).

Adapun salah satu IKM yang bersiap mengantisipasi dampak dari penyebaran Covid-19, yakni PT Gading Toolsindo. Mereka memprediksi jika terjadi lockdown selama dua minggu, usahanya akan mengalami kerugian sekitar Rp570 juta. Sedangkan, jika lockdown terjadi selama satu bulan, kerugian yang dialami bisa mencapai Rp1,3 miliar dengan beban bunga kredit Rp480 juta.

Kemenperin  terus berupaya mendampingi dan mendukung keberlangsungan IKM itu. 
“Kami sudah membuat matriksnya, apa saja yang dibutuhkan oleh setiap pelaku IKM di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih .

Ada beberapa kendala yang dihadapi IKM komponen dan suku cadang, di antaranya adalah harga bahan baku yang lebih mahal, karena pengaruh kurs dolar.

Kemudian, langkanya ketersediaan masker dan penyanitasi tangan, serta mahalnya termometer infra merah dan peralatan semprot disinfektan menjadi tantangan tersendiri. Mengingat peralatan tersebut dibutuhkan untuk menjalankan protokol kesehatan saat melakukan kegiatan produksi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Terkait imbauan pemerintah tentang bekerja dari rumah atau work form home (WFH), pada karyawan non-produksi sebagian belum dapat melaksanakannya. Hal ini dikarenakan keterbatasan fasilitas seperti tidak tersedianya komputer jinjing atau laptop di rumah.

“Namun, telah dilakukan beberapa upaya dalam rangka mendukung Physical Distancing. Kemudian, untuk penundaan pembayaran kredit/pinjaman dan subsidi gaji karyawan akan kami usulkan,” tukas Gati.

Gati menambahkan, beberapa IKM Komponen otomotif yang tergabung dalam Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Indonesia telah memiliki jaringan pemasok dari luar negeri. Seperti PT Eran Tekniktama yang memiliki jaringan pemasok mesin pembuat masker dari Tiongkok. 

IKM tersebut berharap dapat mengantongi izin impor mesin dari Tiongkok untuk proses produksi membuat masker. Sehingga kemudian hasilnya didonasikan bagi masyarakat. (E-1)

BERITA TERKAIT